Israel Bangun Tanggul 23 Kilometer di Gaza, Picu Kekhawatiran Perbatasan Permanen

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Gaza: Citra satelit menunjukkan militer Israel membangun tanggul tanah sepanjang lebih dari 23 kilometer di Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir.

Penghalang tersebut membentang di sepanjang "jalur kuning," yaitu batas penarikan pasukan Israel berdasarkan perjanjian gencatan senjata dengan Hamas pada Oktober 2025.

Militer Israel mengonfirmasi keberadaan tanggul tersebut setelah diperlihatkan citra satelit oleh Associated Press (AP). Menurut Israel, penghalang fisik itu dibangun untuk mencegah penyusupan, melindungi pasukan, dan menjaga keamanan komunitas Israel di sekitar Gaza.

Pembangunan tanggul membelah wilayah yang telah hancur akibat perang dan memisahkan lebih dari separuh Jalur Gaza yang kini berada di bawah kendali Israel dari wilayah lainnya.

Jalur kuning sebelumnya ditetapkan sebagai batas sementara dalam perjanjian gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat sambil menunggu penarikan penuh pasukan Israel.

Militer Israel juga menyatakan telah membangun "zona keamanan" di sekitar jalur tersebut yang dilengkapi aset intelijen dan teknologi.

"Kami sedang bekerja untuk menandai secara jelas rute jalur kuning guna mengurangi gesekan dan mencegah bahaya bagi warga sipil yang tidak terlibat," kata militer Israel kepada Associated Press, seperti dikutip India Today, Selasa, 21 Juli 2026.

Citra satelit Planet Labs PBC menunjukkan pembangunan berlangsung cepat. Di Gaza selatan, salah satu bagian tanggul bertambah dari sekitar 500 meter pada 1 Juli menjadi sekitar 2,4 kilometer pada 15 Juli 2026.

Jika pembangunan terus berlanjut, bagian tersebut akan tersambung dengan tanggul utama yang membentang hampir tanpa putus sejauh sekitar 17 kilometer dari Khan Younis menuju Kota Gaza. Di Gaza utara, sejumlah tanggul lain juga terlihat di sekitar Beit Lahia, bahkan sebagian berada di luar jalur kuning. Perbatasan Permanen Warga Palestina khawatir tanggul tersebut akan mengubah batas sementara menjadi perbatasan permanen. Kekhawatiran itu muncul karena sebagian besar penduduk kini tinggal di wilayah pesisir sebelah barat jalur kuning dalam kamp-kamp pengungsian, sementara banyak kota, termasuk Rafah, telah dihancurkan dan digantikan oleh jalan serta pangkalan militer baru.

Militer Israel menyatakan penghancuran bangunan dilakukan untuk menghilangkan infrastruktur yang digunakan Hamas. Namun, jalur kuning belum pernah didefinisikan secara jelas dalam perjanjian gencatan senjata maupun oleh pejabat Israel dan Amerika Serikat, sehingga batasnya dinilai tidak konsisten di lapangan.

Menurut laporan tersebut, pasukan Israel telah menembaki warga Palestina yang mendekati atau melintasi jalur kuning. Israel menyatakan tembakan diarahkan kepada pihak yang dianggap mengancam pasukannya, tetapi korban juga mencakup anak-anak dan warga sipil yang diduga tidak mengetahui lokasi batas tersebut.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 1.100 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan udara dan drone Israel di Gaza, sementara serangan kelompok bersenjata menewaskan lima tentara Israel.

Hingga kini, proses penarikan penuh pasukan Israel masih tertunda sehingga pembangunan tanggul terus memicu kekhawatiran bahwa pembagian wilayah Gaza yang semula bersifat sementara akan menjadi permanen. (Keysa Qanita)

Baca juga:  Perjuangan Siswa Palestina Menembus Kawat Berduri Demi Bersekolah


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Lima Rumah Rusak Akibat Ledakan di Medan, Diduga Dipicu Kebocoran Pipa Gas
• 11 jam lalu
0
thumb
Bangunan Liar di Bandung Barat Dibongkar Usai Disidak Dedi Mulyadi
• 7 jam lalu
0
thumb
Pramono Mau Kebut Normalisasi Sungai Saat Kemarau: Debit Air Sedang Kecil
• 7 jam lalu
0
thumb
Babak Baru! Tim Khusus 9 Jaksa Mulai Tangani Kasus Korupsi Febrie Adriansyah
• 6 jam lalu
0
thumb
MUI Gelar Kongres Umat Islam Indonesia Ke-8 Bahas Penegakan Hukum dan Isu Strategis Kebangsaan
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.