JAKARTA, KOMPAS - Lima bulan setelah kebakaran, 22 keluarga di Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, kembali ke kediaman masing-masing. Rumah mereka telah direnovasi menjadi lebih layak huni melalui program bedah rumah.
Hendrawati (50) berseri-seri melihat rumahnya di Jalan Bangka III. Tidak ada lagi puing, jelaga di tembok, dan sisa kebakaran pada 10 Februari 2026. Kini, bangunan seluas 60 meter persegi itu lebih bagus dari sebelumnya.
"Dulu semipermanen. Bawah tembok, atasnya kayu. Sekarang tembok semua. Ventilasinya juga diganti kaca. Jadi lebih banyak cahaya yang masuk," tutur Hendrawati (50), Selasa (21/7/2026).
Rumah Hendrawati dan warga lain dibedah sejak Maret 2026. Seluruh biaya ditanggung oleh kerja sama Baznas (Bazis) Jakarta dan PT Malahayati Nusantara Raya.
Selama dibedah, Hendrawati dan keluarga yang terdiri dari enam orang mengontrak tak jauh dari kediamannya. Keluarganya sangat terbantu program bedah rumah karena belum punya cukup uang untuk renovasi rumah secara mandiri.
"Kami seadanya saja tinggal karena rumah warisan orangtua. Terus kena musibah (kebakaran). Alhamdulillah ada bedah rumah jadi lebih rapi," ujar Hendrawati.
Raut bahagia juga terpancar dari wajah Brima Yuliawati (54). Ia dan keluarga tidak pusing tujuh keliling karena program bedah rumah.
"Rumah kami lebih bersih (bagus). Insya Allah akan menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk keluarga," kata Brima.
Rumahnya berada di permukiman padat penduduk dengan akses masuk berupa gang selebar dua meter. Nyaris tak ada jarak antarbangunan. Kalau pun ada, lebarnya satu meter untuk lalu lalang orang.
Setelah bedah rumah, kawasan permukiman lebih tertata. Gang masuk berganti ubin tidak rata menjadi aspal dan saluran air lebih lancar.
"Sekarang tidak berdebu lagi jalannya. Rumah kami bisa mendapatkan pencahayaan alami dari sinar matahari, dan terasa lebih nyaman," ucap Brima.
Terdapat 16 rumah yang dibedah setelah kebakaran di Jalan Bangka III. Sebagian dihuni lebih dari satu keluarga sehingga total ada 22 keluarga terdampak.
Ketua RW 02 Dwi Wahyudi berharap bedah rumah sekaligus penataan lingkungan membuat hidup warga lebih sehat. Warga juga meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran.
"Matikan kompor setelah dipakai, matikan listrik yang tidak dipakai, dan sama-sama jangan lalai," kata Dwi.
Gubernur Jakarta Pramono Anung meninjau hasil bedah rumah pada Selasa ini. Kepada warga, ia menyampaikan bahwa program tersebut sebagai wujud nyata dari penyelesaian masalah yang terjadi di Jakarta.
Khusus bedah rumah di lokasi tersebut, total biayanya Rp 1,32 miliar. Adapun pada tahun ini, Pemprov Jakarta menargetkan 663 rumah dibedah dengan sebaran 120 rumah di Jakarta Barat, 80 Jakarta Pusat, 180 Jakarta Selatan, Jakarta Timur 195, 46 Jakarta Utara, dan 12 Kepulauan Seribu.
Program ini melibatkan Badan Usaha Milik Daerah, seperti Perumda PAM Jaya dan Perumda Dharma Jaya, serta Badan Usaha Milik Nasional (BUMN), misal, PT Pertamina (Persero) dan PT Pegadaian (Persero), serta pihak swasta.
"Cara kerja seperti ini sangat baik sekali. Semua wilayah menjadi prioritas, terutama kawasan yang memang mendesak untuk segera dibedah rumah," ucap Pramono.
Dalam kurun 2019-2025, sebanyak 3.509 rumah dibedah se-Jakarta. Anggarannya mencapai Rp 192,99 miliar. Rumah yang telah dibedah pada periode tersebut terdiri dari 706 rumah di Jakarta Barat, Jakarta Pusat (501), Jakarta Selatan (953), Jakarta Timur (1.162), Jakarta Utara (293), dan Kepulauan Seribu (79).






Komentar (0)