Harga Emas Turun di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak

idxchannel.com
9 jam lalu
Cover Berita

Harga emas melemah pada Senin (20/7/2026) seiring perkembangan konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga Emas Turun di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas melemah pada Senin (20/7/2026) seiring perkembangan konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong kenaikan harga energi serta membayangi prospek suku bunga AS.

Harga emas spot turun 0,24 persen menjadi USD4.007,58 per troy ons.

Baca Juga:
Ketika Kepanikan Pasar Surut, Fundamental Kembali Jadi Acuan

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 0,4 persen, sedangkan indeks dolar AS menguat 0,2 persen. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang aset-aset militer AS di kawasan Timur Tengah menyusul gelombang baru serangan udara AS ke sejumlah kota di Iran.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Melemah, Investor Menanti Deeskalasi Perang AS-Iran

Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Harga minyak mentah Brent turut menguat setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.

Baca Juga:
Telkom (TLKM) Bidik Kapitalisasi Pasar Rp550 Triliun pada 2030 lewat Transformasi TLKM30

Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil tersebut.

"Harga energi yang lebih tinggi masih menjadi perhatian karena meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah menambah kekhawatiran bahwa data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan pekan lalu mungkin belum cukup untuk mencegah The Fed menaikkan suku bunga lagi tahun ini," ujar Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, dikutip Reuters.

Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, turut memperkuat pandangan sejumlah pejabat bank sentral yang menilai suku bunga mungkin masih perlu dinaikkan untuk menekan inflasi yang tetap tinggi.

Kondisi tersebut membuka peluang perdebatan yang lebih tajam pada rapat The Fed berikutnya, termasuk kemungkinan munculnya perbedaan pendapat di pertemuan kedua Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember sebesar 83 persen, meningkat dari 73 persen pada pekan lalu.

"Kami memperkirakan The Fed lebih mengandalkan penyesuaian neraca dibandingkan menaikkan suku bunga hingga jauh di akhir tahun ini. Kami meyakini pasar mulai menyadari hal tersebut dalam satu atau dua bulan ke depan, yang pada akhirnya akan memberikan dukungan bagi harga emas sekaligus menekan dolar AS," kata Meger.

Sementara itu, harga perak spot naik 1,2 persen menjadi USD56,55 per ons. Harga platinum menguat 0,1 persen menjadi USD1.592,86 per ons, sedangkan paladium naik 0,9 persen ke USD1.258,83 per ons. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ada Demo Pagi Ini di Jakarta Pusat Selasa 21 Juli, 1.095 Personel Dikerahkan
• 9 jam lalu
0
thumb
Puan soal Tarif Lepas Kewarganegaraan Jadi Rp 5 Juta: Semoga WNI Tetap Cinta RI
• 2 jam lalu
0
thumb
Landing Nongsa Changi Cable Tandai Era Baru Koneksi Digital ‘Kilat’ Tanpa Jeda
• 8 jam lalu
0
thumb
Tangis Abdel Pecah Kenang Temon, Sebut Tak Sempat Lakukan Ini pada Sang Sahabat
• 1 jam lalu
0
thumb
Polusi Udara Jakarta Terburuk di RI Pagi Ini, Kelompok Sensitif Diimbau Waspada
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.