Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IX DPR RI Cellica Nurrachadiana menyarankan pengadaan Badan Gizi Nasional (BGN) yang tidak esensial dan tidak fokus pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar dikurangi.
"Pengadaannya dikurangi sedikit di tengah ekonomi kita yang sulit. Jadi, harapannya program ini difokuskan pada MBG-nya dulu, karena sebelumnya kan ada pengadaan-pengadaan yang belum pas, sehingga hari ini, kita bisa fokus ke MBG di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dan memiliki angka stunting dulu, serta daerah-daerah yang memang menginginkan adanya MBG," ujarnya dalam siniar yang diikuti di Jakarta, Senin.
Menurutnya, Program MBG menjadi turning point atau titik balik terbesar pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia karena bagaimanapun pembangunan manusia tentu membutuhkan waktu lebih panjang dari pembangunan fisik.
Baca juga: BGN: Motor listrik belum jadi aset, masih proses penyidikan Kejagung
"Indonesia membutuhkan waktu, SDM berbeda dengan fisik, kalau fisik seperti membangun jembatan atau jalan, ada uangnya bisa kita bangun, tetapi pembangunan manusia pasti lama, butuh konsistensi. Program ini juga harus fokus, ketika ada kekurangan maka diperbaiki dan dioptimalkan," katanya.
Cellica menegaskan MBG menjadi program yang ke depan dapat menjawab penurunan stunting, serta memastikan SDM Indonesia yang memiliki output yang baik, seperti tubuh yang yang sehat, otak yang cerdas, mental, hingga emosi yang stabil.
"Jadi salah satu solusinya MBG, meski dengan adanya pro-kontra, kalau untuk MBG animo rakyat bagus sekali, bahkan bahagia, sampai ada yang bertanya (di daerahnya) kok belum ada MBG," ucapnya.
Baca juga: DPR RI: Literasi gizi orang tua kunci sukses cegah stunting lewat MBG
Ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan sekolah untuk menu yang lebih sesuai angka kecukupan gizi (AKG).
"Misal ada yang bosan menunya, maka perlu peran komunikasi antara SPPG dan sekolah, makanan bukan hanya yang disukai saja, tetapi bergizi," tuturnya.
Dalam rangka menurunkan angka stunting melalui MBG, Cellica menyebutkan daerah memiliki kader-kader posyandu hingga KB yang cukup tersebar luas untuk mengedukasi masyarakat.
"Mereka ini jumlahnya banyak, dan selama ini mereka membantu kami di daerah untuk menginformasikan secara akurat tentang stunting. Potensi stunting itu di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), bahkan (bisa dicegah) mulai dari perempuan di usia reproduksi yang dikasih tablet tambah darah," paparnya.
Baca juga: Banggar DPR perkirakan anggaran MBG 2027 turun jadi Rp174 triliun
"Pengadaannya dikurangi sedikit di tengah ekonomi kita yang sulit. Jadi, harapannya program ini difokuskan pada MBG-nya dulu, karena sebelumnya kan ada pengadaan-pengadaan yang belum pas, sehingga hari ini, kita bisa fokus ke MBG di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dan memiliki angka stunting dulu, serta daerah-daerah yang memang menginginkan adanya MBG," ujarnya dalam siniar yang diikuti di Jakarta, Senin.
Menurutnya, Program MBG menjadi turning point atau titik balik terbesar pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia karena bagaimanapun pembangunan manusia tentu membutuhkan waktu lebih panjang dari pembangunan fisik.
Baca juga: BGN: Motor listrik belum jadi aset, masih proses penyidikan Kejagung
"Indonesia membutuhkan waktu, SDM berbeda dengan fisik, kalau fisik seperti membangun jembatan atau jalan, ada uangnya bisa kita bangun, tetapi pembangunan manusia pasti lama, butuh konsistensi. Program ini juga harus fokus, ketika ada kekurangan maka diperbaiki dan dioptimalkan," katanya.
Cellica menegaskan MBG menjadi program yang ke depan dapat menjawab penurunan stunting, serta memastikan SDM Indonesia yang memiliki output yang baik, seperti tubuh yang yang sehat, otak yang cerdas, mental, hingga emosi yang stabil.
"Jadi salah satu solusinya MBG, meski dengan adanya pro-kontra, kalau untuk MBG animo rakyat bagus sekali, bahkan bahagia, sampai ada yang bertanya (di daerahnya) kok belum ada MBG," ucapnya.
Baca juga: DPR RI: Literasi gizi orang tua kunci sukses cegah stunting lewat MBG
Ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan sekolah untuk menu yang lebih sesuai angka kecukupan gizi (AKG).
"Misal ada yang bosan menunya, maka perlu peran komunikasi antara SPPG dan sekolah, makanan bukan hanya yang disukai saja, tetapi bergizi," tuturnya.
Dalam rangka menurunkan angka stunting melalui MBG, Cellica menyebutkan daerah memiliki kader-kader posyandu hingga KB yang cukup tersebar luas untuk mengedukasi masyarakat.
"Mereka ini jumlahnya banyak, dan selama ini mereka membantu kami di daerah untuk menginformasikan secara akurat tentang stunting. Potensi stunting itu di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), bahkan (bisa dicegah) mulai dari perempuan di usia reproduksi yang dikasih tablet tambah darah," paparnya.
Baca juga: Banggar DPR perkirakan anggaran MBG 2027 turun jadi Rp174 triliun






Komentar (0)