JAKARTA, KOMPAS.com - Kemunculan Jaklingko dengan tarif gratis tentu saja menjadi keberkahan tersendiri untuk para warga Jakarta yang selalu mengandalkan transportasi umum.
Namun, kehadiran Jaklingko di tengah masyarakat juga menjadi ancaman tersendiri untuk pengemudi transportasi umum lainnya, seperti kancil atau bajaj qute.
Sejumlah sopir kancil yang masih bertahan di Pademangan, Jakarta Utara, mengeluhkan omzetnya yang kian menyusut sejak adanya Jaklingko.
Sebab, banyak orang yang memilih untuk naik Jaklingko karena gratis, dibandingkan naik kancil yang harus berbayar sekitar Rp 4.000 hingga Rp 5.000.
Baca juga: Kancil Menolak Punah di Jakarta, Dulu Lahir sebagai Pengganti Bemo
Oleh karena itu, sejumlah sopir kancil berharap agar transportasi umum mungil itu bisa dijadikan seperti Jaklingko yang gratis, sehingga tetap diminati warga.
"Kalau bisa, kancil ini juga disubsidi seperti Jaklingko supaya bisa gratis juga bagi penumpang. Kami berharap bisa direkrut oleh Pemprov DKI Jakarta dengan gaji sesuai UMR, itu harapan saya," ucap salah satu sopir kancil Sukardi (56) ketika ditemui di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, Jumat (17/7/2026).
Namun, apabila tidak bisa digratiskan, maka Sukardi meminta agar Jaklingko dikenakan tarif agar persaingan yang tercipta di lapangan bisa lebih sehat.
Penumpang juga bisa memilih transportasi umum yang nyaman, bukan hanya karena tarifnya yang gratis saja.
Sulit untuk digratiskanPengamat Transportasi Deddy Herlambang menilai, sulit untuk membuat kendaraan kancil menjadi gratis seperti Jaklingko.
"Menurut saya, itu tetap tidak bisa, karena belum bisa dikategorikan angkutan massal. Angkutan massal itu seperti angkot atau Mikrotrans yang kapasitasnya di atas sembilan orang," tutur dia ketika dihubungi Kompas.com, Jumat.
Sampai saat ini, belum ada aturan hukum yang jelas untuk mengategorikan kendaraan berkapasitas tiga hingga empat orang sebagai angkutan massal.
Baca juga: Di Tengah Ragam Transportasi Modern Ibu Kota, Gen Z Tetap Pilih Naik Kancil
Di sisi lain, Deddy juga menyarankan agar Jaklingko dapat diberlakukan tarif lagi, namun harus secara bertahap mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 2.000 supaya masyarakat tidaklah kaget, karena selama ini sudah terbiasa gratis.
Sebab, Jaklingko sudah menjadi andalan semua kalangan warga Jakarta, termasuk ibu rumah tangga yang ingin bepergian ke pasar atau mengantar anak sekolah sekalipun.
Oleh sebab itu, pemberlakuan tarifnya harus dilakukan secara bertahap.
Pengamat Transportasi itu mengatakan, meski sulit untuk digratiskan seperti Jaklingko, kancil tetap akan diminati penumpang.






Komentar (0)