"...Tahun 2023 Cubarsi Masih Main di Solo..."

kompas.tv
23 jam lalu
Cover Berita
Bek tengah Timnas Spanyol Pau Cubarsi (22) berduel udara dengan salah seorang pemain Austria Michael Gregoritch (11) saat kedua tim bertemu pada babak 32 besar Piala Dunia 2026  di Stadion Los Angeles, Inglewood, Jumat (3/7/2026) pagi WIB. Cubarsi yang turut membantu Spanyol mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 pada final Piala Dunia 2026, Senin (20/7) dini hari tadi WIB terpilih menjadi pemain muda terbaik pada turnamen ini. (Sumber: AP Photo/Mark J. Terrill)

oleh: Martian Damanik, Wakil Pemimpin Redaksi KompasTV

Demam sepak bola Piala Dunia 2026 melanda hampir seluruh negara termasuk Indonesia. Untuk kesekian kalinya indonesia masih jadi penonton, padahal slogan menuju pentas dunia sudah dicanangkan sejak tahun 1995. Saat itu PSSI menggabungkan kompetisi galatama dan perserikatan sebagai bagian bergulirnya liga sepak bola modern.

Sayangnya liga modern ala PSSI ini baru sebatas mampu menarik penonton ke stadion, tetapi belum sampai menyumbangkan pemain pemain berkualitas yang membawa Indonesia ke pentas bola dunia.

Buruknya tata kelola liga bikin sepak bola Indonesia sudah pasti jadi penyebab. Liga sepak bola kita lebih diwarnai kasus mafia wasit, kerusuhan penonton, jadwal dan format yang tidak jelas, intervensi politik, hingga kisruh di dalam tubuh PSSI. Jangan heran kalau mimpi menuju pentas dunia itu masih jadi angan-angan hingga kini.

Baca Juga: Daftar Pemenang Penghargaan Piala Dunia 2026: Spanyol Borong Gelar, Mbappe Raih Sepatu Emas

Bandingkan dengan negara Sakura, Jepang. Hanya enam tahun sejak menggulirkan liga sepak bola modern J-League tahun 1992, negara ini langsung lolos ke Piala Dunia Prancis 1998. Sejak itu Jepang jadi raja sepak bola Asia, plus peserta tetap Piala Dunia. Jepang bahkan nyaris mengalahkan Brasil di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Padahal Brasil adalah ibarat guru karena klub-klub Jepang banyak mendatangkan pemain Brasil saat awal J-League. Jepang bahkan sempat menaturalisasi sejumlah pemain berdarah Brasil dan dilatih Zico.

Hingga kini J-league sudah mampu melahirkan pemain pemain hebat yang sekarang bermain di sejumlah liga elite Eropa. Jepang pun kini sudah dilatih pelatih lokal. Pengelolaan kompetisi yang profesional serta konsisten sudah pasti jadi faktor utama, tapi salah satu faktor keberhasilan ini karena Jepang sudah melatih bakat bakat pesepak bola sejak usia sekolah. Kompetisi berjenjang teratur digelar dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang terintegrasi dengan klub profesional J-League  yang wajib punya akademi sepak bola.

Kesuksesan pembinaan pemuda ini juga mengantarkan Uzbekistan lolos ke Piala Dunia 2026. Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev turun langsung mengawasi pembangunan serta perkembangan tim nasional. Sejak tahun 2018, dia mengeluarkan keputusan program pengembangan sepak bola, peningkatan kualitas liga, kualitas pelatih, dan spesilisasi pelatih.

Pemerintah juga melibatkan investor dan pihak swasta, yang mendapatkan fasilitas negara, bila turut membantu pengembangan sepak bola di Uzbekistan. Hasilnya pun dipetiik dengan keberhasilan jadi peserta Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Luis de la Fuente: Mereka Luar Biasa

Penulis : Gading-Persada

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • piala dunia 2026
  • spanyol juara piala dunia
  • pau cubarsi
  • spanyol vs argentina
  • lionel messi
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hubungan Parasosial di Era Digital
• 6 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Siapkan Insentif PPh 0 Persen hingga 50 Tahun di PFII
• 18 jam lalu
0
thumb
Hamas Pilih Khalil al-Hayya sebagai Pemimpin Baru
• 4 jam lalu
0
thumb
Ragam Desakan yang Berujung Pelaporan Kepada Hotman Paris
• 3 jam lalu
0
thumb
Prabowo Klaim PT DSI Kelola Devisa USD 10,5 Miliar Sejak 2 Pekan Beroperasi
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.