Saham sektor minyak dan gas (migas) menguat pada Senin (20/7/2026) seiring lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus level psikologis USD90 per barel.
IDXChannel – Saham sektor minyak dan gas (migas) menguat pada Senin (20/7/2026) seiring lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus level psikologis USD90 per barel.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.21 WIB, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) meningkat 4,03 persen ke Rp1.420 per unit. Saham Grup Bakrie tersebut melonjak 13,15 persen dalam sepekan terakhir.
Selain ENRG, saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) terkerek 2,92 persen ke Rp141 per unit, tetapi dengan nilai transaksi yang jauh lebih kecil.
Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga naik 2,44 persen menjadi Rp1.260 per unit.
Selanjutnya, saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tumbuh 1,69 persen, PT Elnusa Tbk (ELSA) 1,56 persen, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) 1,41 persen.
Tidak ketinggalan, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) terapresiasi 1,48 persen.
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Senin (20/7) pagi, didorong eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling memperluas serangan.
Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Berdasarkan perdagangan hingga pukul 06.43 WIB, harga minyak mentah Brent naik USD2,69 atau 3,05 persen menjadi USD90,79 per barel.
Harga sempat menyentuh level tertinggi sejak 11 Juni dan memperpanjang reli setelah melonjak 15,9 persen sepanjang pekan lalu, yang menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak April.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD2,19 atau 2,65 persen menjadi USD84,68 per barel.
Kontrak acuan tersebut juga mencatat level tertinggi sejak 12 Juni, setelah menguat 15,5 persen sepanjang pekan lalu, kenaikan mingguan terbesar sejak awal Maret.
Konflik di Timur Tengah kembali memanas selama akhir pekan. Militer AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam kesembilan berturut-turut, sementara sekutu AS di kawasan, yakni Kuwait dan Bahrain, melaporkan adanya serangan baru dari Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak juga meningkatkan tekanan terhadap jalur pelayaran. AS menyatakan tengah memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sedangkan Iran mengatakan akan menargetkan kapal-kapal yang melanggar aturan pelayaran yang diberlakukannya di Selat Hormuz.
Situasi tersebut semakin memicu kekhawatiran pasar setelah Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terbakar di barat laut Kumzar, Oman, pada Senin pagi.
Analis Barclays, Amarpreet Singh, mengatakan beberapa hari hingga beberapa pekan ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat seberapa besar dampak blokade dari kedua belah pihak terhadap ekspor minyak dari kawasan tersebut.
"Beberapa hari dan pekan ke depan akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat ekspor minyak yang dapat dipertahankan dari kawasan di tengah pemberlakuan blokade ganda," ujarnya dalam sebuah catatan riset, dikutip Reuters.
Ia menambahkan, pasar minyak masih terlalu tenang dalam menilai potensi dampak terhadap persediaan minyak global.
Menurutnya, berbeda dengan awal perang, stok minyak saat ini berada pada level paling ketat dalam lima tahun terakhir sehingga gangguan pasokan berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap harga. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.






Komentar (0)