PADANG, KOMPAS — Banjir bandang kembali melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Ratusan rumah terdampak dan hingga kini 145 warga bertahan di pengungsian.
Banjir bandang terjadi pada Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 17.00. Bencana itu dipicu meluapnya sungai-sungai akibat hujan deras. Ada tiga kecamatan terdampak, yaitu Tukka, Badiri, dan Pinangsori.
“Ketinggiannya bervariasi, namun rata-rata di atas pinggang orang dewasa (sekitar 100 cm). Banjirnya berarus deras,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah, Erianto Tambunan, ketika dihubungi dari Padang, Minggu (19/7/2026).
BPBD Tapanuli Tengah mencatat, di Kecamatan Tukka, banjir merendam rumah warga di tiga kelurahan, yaitu Sipange, Hutanabolon, dan Bonalumban. Di Kecamatan Badiri, banjir melanda jalan raya di Kelurahan Lopian.
Adapun di Kecamatan Pinangsori, banjir merendam rumah warga di Kelurahan Pinangsori dan Kelurahan Prancis.
Menurut Erianto, intensitas banjir paling ekstrem terjadi di Kelurahan Sipange. Banjir menggenangi seluruh wilayah kelurahan itu dengan 450 rumah terendam. Warga pun dievakuasi ke tempat tinggi agar tidak terbawa arus.
“Hingga kini ada 145 jiwa warga Kelurahan Sipange mengungsi di gedung Gereja HKBP Sipange,” ujar Erianto.
Secara umum, banjir di Tapanuli Tengah, kata Erianto, sudah surut dan warga kembali untuk membersihkan rumah masing-masing. Namun, sebagian warga di Sipange bertahan di pengungsian karena peralatan dapur rusak dan tidak lagi punya perbekalan.
Erianto menambahkan, BPBD mengadakan dapur umum di tempat pengungsian di Sipange. “Kami buka sampai warga dapat kembali mandiri dan beraktivitas seperti biasa,” katanya.
Selain dapur umum, Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah juga membuka posko kesehatan di lokasi pengungsian Gereja HKBP Sipange pada Sabtu kemarin. Langkah ini sebagai antisipasi agar para pengungsi tidak terserang penyakit.
“Melalui posko ini, tim medis akan bersiaga penuh untuk memantau dan memberikan pengobatan langsung kepada warga yang membutuhkan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Tapteng, Lisnawati Panjaitan, dalam siaran pers, Sabtu.
Lokasi-lokasi terdampak banjir bandang di Tapanuli Tengah, Sabtu kemarin, termasuk lokasi yang dilanda bencana Sumatera pada akhir November 2025. Sejak bencana besar itu, titik-titik tersebut berulang kali dilanda banjir dan banjir bandang saat hujan deras.
Di Sipange, kata Erianto, banjir bandang lebih ekstrem karena tanggul darurat jebol pada Jumat (17/7/2026) sore. Luapan air dari Sungai Aek Silagalaga tak terbendung sehingga merendam seluruh wilayah kelurahan tersebut.
Menurut Erianto, dua alat berat dikerahkan untuk membangun kembali tanggul yang rusak dari awal.
“Kami berharap ke pemerintah pusat dan provinsi agar membantu kami membuat tanggul permanen. Sebab, kewenangan sungai ada di provinsi. PUPR juga mohon bantuannya karena alat berat kami sangat minim,” katanya.
Keberadaan tanggul permanen, kata Erianto, sangat dibutuhkan. Tanggul darurat tidak cukup kuat menahan debit sungai saat hujan deras sehingga banjir pun berulang kali terjadi.
“Tahun ini saja sekitar 25 kali terjadi banjir, termasuk di lokasi yang terkena saat ini,” ujarnya.






Komentar (0)