Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan dimulainya gelombang baru serangan udara terhadap Iran atas perintah Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS).
Operasi militer itu disebut sebagai respons atas serangan yang menewaskan dua personel militer AS di Yordania serta untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial X, CENTCOM menyebut serangan dimulai Sabtu (18/7/2026) pukul 18.00 waktu setempat.
“Hari ini pukul 6 sore ET, pasukan AS mulai melancarkan serangan udara baru terhadap Iran atas arahan Panglima Tertinggi,” demikian pernyataan CENTCOM.
Komando itu menambahkan bahwa operasi tersebut bertujuan “semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz” serta menghukum pasukan Garda Revolusi Iran yang dituding bertanggung jawab atas serangan terhadap personel militer AS di Yordania.
Serangan terbaru ini menandai eskalasi lanjutan dalam konflik antara Washington dan Teheran setelah gencatan senjata yang disepakati pada Juni runtuh.
Sejak awal Juli, militer Amerika telah beberapa kali melancarkan serangan terhadap target-target militer Iran dengan alasan melindungi kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk di Yordania.
Dilansir dari Antara, Teheran juga menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata, sementara Presiden Donald Trump pada 9 Juli menyatakan bahwa kesepakatan tersebut sudah tidak lagi berlaku.
Seiring meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat juga memperkuat kehadiran militernya di kawasan.
Laporan Wall Street Journal menyebut Washington mengerahkan jet tempur F-35 dari Pangkalan Udara Lakenheath di Inggris dan F-16 dari Pangkalan Udara Spangdahlem di Jerman ke Timur Tengah.
Selain itu, sejumlah pesawat tanker turut dikerahkan untuk mendukung operasi udara.
Konflik yang terus meningkat memicu kekhawatiran internasional terhadap stabilitas kawasan dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. (saf/iss)





Komentar (0)