Saat kuliah S1 pada tahun 2012, saya masih ingat betul Teori Agenda Setting dari Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw. Teori ini menyatakan bahwa media tidak memberi tahu kita apa yang harus dipikirkan, melainkan apa yang penting untuk dipikirkan. Saya pun berpikir, luar biasa sekali kekuatan media—terutama bagi pemiliknya. Mereka dapat mengatur isu-isu penting yang dikonsumsi publik, tentu saja tidak lepas dari kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Seiring berjalannya waktu, ekosistem media berubah drastis. Internet dan media sosial memungkinkan khalayak memilih sendiri informasi yang ingin dikonsumsi, tanpa perlu menunggu apa yang disajikan oleh media arus utama. Dalam konteks ini, Teori Uses and Gratifications dari Sandra Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur menjadi sangat relevan. Teori ini melihat khalayak sebagai pihak yang aktif, yang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya.
Misalnya, saya pribadi lebih menyukai konten ceramah dari ustazah yang modern, tidak kaku, dan memiliki penyampaian yang soft spoken. Maka, algoritma TikTok dan Instagram pun menyesuaikan preferensi saya dengan terus menyajikan konten serupa. Di sinilah media tak lagi “mengatur” apa yang saya konsumsi; saya yang menentukan.
Sebagai generasi milenial (saya bukan Gen Z, apalagi Alpha), konten yang sesuai dengan minat tentu sangat membantu. Sesederhana mencari “obat penghilang jerawat dalam semalam” di TikTok, kita langsung disuguhi ratusan bahkan ribuan konten. Kita pun dapat memilih yang paling cocok dengan kondisi kita. Tapi di balik kemudahan ini, muncul persoalan besar: kredibilitas informasi.
Banyak konten hanyalah bentuk endorsement dari influencer. Tidak semua ulasan jujur, karena ada kepentingan komersial di baliknya. Etika, kebenaran, bahkan moral hazard seringkali diabaikan demi keuntungan. Inilah tantangan besar dari banjir informasi digital yang cepat tapi belum tentu akurat.
Dalam konteks ini, media massa mulai kehilangan pamornya. Bahkan media daring pun banyak yang gulung tikar. Padahal media daring biasanya melewati proses editorial, di mana reporter, editor, dan redaktur bekerja bersama untuk memastikan kualitas dan akurasi berita sebelum dipublikasikan.
Namun, di tengah kecepatan dan kemudahan mengakses informasi, khalayak kini lebih memilih konten yang cepat dan relatable meskipun mengabaikan kredibilitasnya. Maka, Teori Media Dependency dari Ball-Rokeach dan DeFleur menjadi relevan kembali. Teori ini menjelaskan bahwa individu bergantung pada media untuk mencapai tujuan tertentu. Saat mencari solusi untuk jerawat, misalnya, kita percaya pada konten dari seorang influencer karena melihat bukti visual “sebelum dan sesudah”. Ketika hasilnya sesuai harapan, kita anggap informasi itu benar — meskipun influencer tersebut bukan ahli dermatologi.
Kredibilitas pun bergeser: dari yang berbasis keahlian menjadi berbasis pengalaman personal dan kepercayaan sosial. Padahal, informasi dari influencer tidak selalu melalui validasi atau didasarkan pada pengetahuan akademis. Namun karena ada komunikasi dua arah dan kesan personal touch, khalayak lebih mudah percaya.
Fenomena ini juga berdampak pada hubungan antara Public Relations (PR) dan media massa. PR kini lebih sering bekerja sama dengan influencer daripada jurnalis, karena dianggap lebih tepat sasaran. Namun, dalam memilih influencer, PR seharusnya tidak hanya melihat jumlah pengikut, tapi juga memperhatikan kepakaran, niche audiens, dan kemampuan influencer membangun relasi yang kredibel dengan pengikutnya.
Media massa pun dituntut untuk beradaptasi. Mereka tak bisa hanya mengandalkan hard news di TikTok atau Instagram. Harus ada kreativitas dan pendekatan ala influencer untuk menyampaikan berita agar tetap relevan. Karena sejatinya, publik masih membutuhkan informasi yang akurat dan kredibel — dan media massa memiliki tanggung jawab moral untuk menyediakannya.






Komentar (0)