Jakarta (ANTARA) - Di balik operasional kereta LRT Jabodebek yang selalu bersih dan dicuci secara rutin, terdapat sepertiga kebutuhan air pencucian merupakan air hasil daur ulang yang telah melalui serangkaian proses pengolahan sehingga dimanfaatkan kembali secara aman untuk mendukung perawatan sarana.
Pemanfaatan kembali air tersebut menjadi bagian dari upaya LRT Jabodebek dalam menerapkan prinsip efisiensi sumber daya dan keberlanjutan pada proses operasional. Air bekas pencucian tidak langsung dibuang, melainkan diolah melalui Water Treatment Plant (WTP) yang terintegrasi dengan Automatic Train Wash Plant (ATWP). Setelah melalui proses pemisahan lumpur dan oli, penyaringan, serta penyesuaian tingkat keasaman (pH), air hasil pengolahan digunakan kembali untuk proses pencucian kereta berikutnya.
Melalui sistem tersebut, setiap pencucian satu rangkaian kereta LRT Jabodebek membutuhkan sekitar 973 liter air. Dari jumlah tersebut, sekitar 309 liter atau hampir sepertiga kebutuhan air berasal dari hasil daur ulang, sedangkan 664 liter merupakan air baru (fresh water). Dengan demikian, kebutuhan air bersih untuk proses pencucian dapat dikurangi tanpa mengurangi kualitas kebersihan kereta.
Sepanjang Semester 1 tahun 2026, pemanfaatan air hasil daur ulang tersebut telah menggantikan kebutuhan sekitar 293.859 liter air bersih dalam proses pencucian kereta. Langkah ini menjadi salah satu upaya LRT Jabodebek menerapkan efisiensi penggunaan sumber daya air sebagai bagian dari operasional yang lebih berkelanjutan.
Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan bahwa keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan layanan transportasi publik yang membantu mengurangi kemacetan dan emisi kendaraan pribadi, tetapi juga diterapkan dalam proses operasional sehari-hari.
"Transportasi publik yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari bagaimana masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke angkutan massal, tetapi juga dari bagaimana operator mengelola sumber daya secara bertanggung jawab. Melalui sistem pencucian otomatis yang dilengkapi pengolahan air, kami dapat memanfaatkan kembali sebagian air bekas pencucian sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan air bersih,” ujarnya.
Sistem ATWP bekerja secara otomatis saat kereta memasuki area pencucian, rangkaian akan melewati 7 tahapan proses yang meliputi : penyemprotan air, aplikasi deterjen, penyikatan otomatis, pembilasan, hingga tahap akhir menggunakan demineralized water. Seluruh proses tersebut berlangsung sekitar 2 menit untuk satu rangkaian kereta sepanjang sekitar 100 meter.
"Ketika masyarakat memilih transportasi publik, manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam bentuk perjalanan yang lebih cepat dan bebas kemacetan. Di balik operasionalnya juga terdapat berbagai upaya untuk menggunakan sumber daya secara lebih efisien, dan keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui perpindahan ke angkutan massal, tetapi juga melalui cara operator mengelola setiap proses operasional secara bertanggung jawab," tutupnya.
Pemanfaatan kembali air tersebut menjadi bagian dari upaya LRT Jabodebek dalam menerapkan prinsip efisiensi sumber daya dan keberlanjutan pada proses operasional. Air bekas pencucian tidak langsung dibuang, melainkan diolah melalui Water Treatment Plant (WTP) yang terintegrasi dengan Automatic Train Wash Plant (ATWP). Setelah melalui proses pemisahan lumpur dan oli, penyaringan, serta penyesuaian tingkat keasaman (pH), air hasil pengolahan digunakan kembali untuk proses pencucian kereta berikutnya.
Melalui sistem tersebut, setiap pencucian satu rangkaian kereta LRT Jabodebek membutuhkan sekitar 973 liter air. Dari jumlah tersebut, sekitar 309 liter atau hampir sepertiga kebutuhan air berasal dari hasil daur ulang, sedangkan 664 liter merupakan air baru (fresh water). Dengan demikian, kebutuhan air bersih untuk proses pencucian dapat dikurangi tanpa mengurangi kualitas kebersihan kereta.
Sepanjang Semester 1 tahun 2026, pemanfaatan air hasil daur ulang tersebut telah menggantikan kebutuhan sekitar 293.859 liter air bersih dalam proses pencucian kereta. Langkah ini menjadi salah satu upaya LRT Jabodebek menerapkan efisiensi penggunaan sumber daya air sebagai bagian dari operasional yang lebih berkelanjutan.
Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan bahwa keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan layanan transportasi publik yang membantu mengurangi kemacetan dan emisi kendaraan pribadi, tetapi juga diterapkan dalam proses operasional sehari-hari.
"Transportasi publik yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari bagaimana masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke angkutan massal, tetapi juga dari bagaimana operator mengelola sumber daya secara bertanggung jawab. Melalui sistem pencucian otomatis yang dilengkapi pengolahan air, kami dapat memanfaatkan kembali sebagian air bekas pencucian sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan air bersih,” ujarnya.
Sistem ATWP bekerja secara otomatis saat kereta memasuki area pencucian, rangkaian akan melewati 7 tahapan proses yang meliputi : penyemprotan air, aplikasi deterjen, penyikatan otomatis, pembilasan, hingga tahap akhir menggunakan demineralized water. Seluruh proses tersebut berlangsung sekitar 2 menit untuk satu rangkaian kereta sepanjang sekitar 100 meter.
"Ketika masyarakat memilih transportasi publik, manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam bentuk perjalanan yang lebih cepat dan bebas kemacetan. Di balik operasionalnya juga terdapat berbagai upaya untuk menggunakan sumber daya secara lebih efisien, dan keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui perpindahan ke angkutan massal, tetapi juga melalui cara operator mengelola setiap proses operasional secara bertanggung jawab," tutupnya.






Komentar (0)