Bisnis.com, JAKARTA - Hotman Paris Hutapea mengungkapkan alasan memilih menjadi pengacara eks Jampidsus Febrie Adriansyah, tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam perkara Asabri.
Dia merasa miris atas kasus yang menimpa kliennya karena menurut dia, Febrie merupakan sosok yang dibanggakan oleh Presiden Prabowo Subianto karena berhasil mengembalikan kerugian negara, salah satunya terkait penertiban kawasan hutan ketika Febrie menjadi Ketua Satgas PKH.
"Saya melihat benar-benar saya merasa miris. Karena apa? Jampidsus itu adalah yang dibanggakan oleh Presiden Prabowo karena dengan dia. Dia mendapatkan negara mendapatkan sebagai Satgas PKH Rp300 triliun kemudian dalam satu tahun. Kemudian, pengembalian kerugian negara dapat Rp130 triliun, sudah Rp430 triliun kembali, dibanggakan oleh Presiden," katanya kepada awak media Jumat (17/7/2026) malam di Kejaksaan Agung.
Hotman menilai Febrie Adriansyah yang selama ini menjadi kebanggaan Presiden Prabowo justru dikriminalisasi bahkan tanpa pamit dengan presiden. Menurutnya penanganan perkara Febrie tidak diketahui presiden.
Dia mengungkit sejarah kinerja Jampidsus yang selama ini berkontribusi untuk menyelamatkan harta kekayaan negara dan mengungkapkan kasus-kasus besar.
Misalnya, kata Hotman, ketika Jampidsus menguak praktik korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menangani kasus Petral.
Baca Juga
- Hotman Sebut Rumah Eks Jampidsus Febrie di Sentul Digunakan Don Ritto sejak 2022
- Hotman Nilai Penetapan Tersangka Febrie Adriansyah Melanggar KUHAP
- Hotman Paris Bantah Ada Aliran Dana Rp50 Miliar dari Tan Kian ke Febrie Adriansyah
"Dan yang kedua, beliau ini sekarang Jampidsus. Lu tahu enggak transfer pricing itu? Dalam sejarah kejaksaan di Indonesia sejak zaman Majapahit termasuk presiden-presiden yang sebelumnya belum pernah ada kejaksaan, ini saja sudah Rp430 triliun yang terkumpul uang berupa uang cash masuk ke kas negara," ucapnya.
Hotman mengatakan keterlibatannya sebagai kuasa hukum Febrie didasari panggilan moral, bukan pertimbangan materi. Dia menegaskan tidak mengharapkan bayaran dari Febrie karena menyadari kliennya itu tidak mungkin mampu membayar tarif jasanya yang, menurutnya, merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Dia juga membantah anggapan bahwa dirinya terlibat dalam perkara tersebut demi mencari popularitas atau keuntungan finansial.
Dia menegaskan tidak lagi membutuhkan uang karena mayoritas kliennya merupakan kalangan konglomerat, termasuk dalam berbagai perkara bisnis di Singapura yang ditanganinya di Indonesia.
"Itulah alasannya saya terpanggil. Saya tidak mengharapkan uang dari Jampidsus ini karena saya tahu tidak mungkin dia bayar saya mahal, saya bayarannya super mahal di Indonesia," kata Hotman.






Komentar (0)