REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Selama lebih dari setengah abad, ketika banyak orang berbicara tentang benturan peradaban, John L Esposito justru memilih membangun jembatan.
Melalui puluhan buku, penelitian, ensiklopedia, dan ruang-ruang dialog yang ia dirikan, akademisi asal Amerika Serikat itu menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam menjelaskan Islam kepada dunia Barat.
Baca Juga
Ternyata Ada Tidur Terpuji dan Tidur yang Tercela Menurut Islam, Apa Perbedaan Keduanya?
Perlawanan Irak Deklarasi Siap Bantu Iran Perang Lawan AS
Ragam Cara Ditempuh Trump Tekan Iran, Tetapi yang Ada Justru Semakin Buktikan Kegagalan AS
Kini, jembatan itu kehilangan salah satu arsitek utamanya.
John L Esposito, profesor Universitas Georgetown yang karya-karyanya membentuk cara pandang generasi mahasiswa, jurnalis, akademisi, pemimpin agama, dan pembuat kebijakan terhadap Islam, meninggal dunia pada Rabu (15/7/2026) usia 86 tahun.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kabar wafatnya disampaikan oleh Imam Abdul Malik Mujahid, sahabat lamanya sekaligus pendiri Sound Vision Foundation dan mantan Ketua Parliament of the World's Religions.
Menurut Mujahid, Jean Esposito, istri almarhum, mengonfirmasi bahwa Esposito meninggal dunia pada pukul 14.00 waktu setempat akibat komplikasi setelah menjalani prosedur pemasangan stent beberapa hari sebelumnya.
Informasi mengenai prosesi pemakaman dan penghormatan terakhir akan diumumkan kemudian.
Ucapan belasungkawa segera mengalir dari berbagai penjuru dunia Islam, termasuk dari Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR).
Di tengah kabar wafat tersebut, muncul pula informasi yang beredar di kalangan sejumlah akademisi dan tokoh Muslim Amerika.
Dr Abdullah bin Hamid Ali dari Zaytuna College menyebut dirinya menerima kabar bahwa Esposito telah mengucapkan syahadat di kediaman Syekh Hamza Yusuf dengan disaksikan istri Syekh Hamza.
Komentar (0)