REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Yusmanto mengungkapkan, kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat rob di sepanjang kawasan Pantai Utara (Pantura) Jateng mencapai triliunan rupiah. Penurunan muka tanah yang diiringi naiknya permukaan laut menjadi faktor penyebab hal tersebut.
Yusmanto menerangkan, penurunan muka tanah di pesisir Semarang rata-rata mencapai 12 sentimeter per tahun. Sementara Demak dan Pekalongan bisa menyentuh 16 sentimeter per tahun.
"Jadi kalau kita lihat di Pantai Utara, dari Brebes sampai Rembang aslinya semuanya kena. Cuman yang paling parah yang titik-titik tadi mulai Tegal, Pekalongan, kemudian Semarang, Demak," ungkap Yusmanto ketika diwawancara di Kota Semarang, Jumat (17/7/2026).
Dia menambahkan, aplikasi seperti Google Maps memiliki histori citra satelit yang dapat memperlihatkan bagaimana kenaikan permukaan air laut telah merendam, bahkan menenggelamkan sejumlah daerah di Pantura Jawa. "Kita lihat secara sederhana di Google itu ada sejarahnya di Pantai Utara-nya, begitu ditarik dari tahun ke tahun, semakin lama semakin berkurang (daratannya), terus lautnya yang maju," ucapnya.
Kendati demikian, Yusmanto mengatakan Bappeda Jateng belum memiliki data soal berapa luas daratan di pesisir Pantura Jateng yang kini terendam atau tenggelam air laut. Namun dia memastikan kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat rob sangat signifikan.
"Nilainya triliunan rupiah itu. Jadi dari kerusakan ekosistem, kehilangan mata pencaharian, kehilangannya lainnya, itu valuasinya ada, bisa dihitung," ujarnya.
Komentar (0)