Kekhawatiran mengenai akal imitasi generatif menggantikan tenaga kerja manusia relatif belum kelihatan di kawasan Asia Tenggara. Laporan terbaru Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menunjukkan, hingga kini belum ada disrupsi pasar kerja dalam skala luas akibat AI generatif.
Perubahan mulai terjadi pada isi pekerjaan, seperti sebagian tugas rutin dialihkan kepada AI. Sementara pekerja manusia dituntut mengerjakan tugas yang lebih kompleks dan bernilai tambah.
Laporan terbaru ILO yang dimaksud berjudul Generative AI and Labour Markets in ASEAN:Significant Exposure, Limited Disruption, Uneven Preparedness. Laporan ini pertama kali terbit Rabu (8/7/2026). ILO menggelar webinar untuk menjelaskan isi laporan kepada media dan publik seminggu kemudian, yakni Rabu (15/7/2026).
Labour Economist di Kantor ILO Regional Asia Pasifik, Christian Viegelahn, menyampaikan, sesuai isi laporan penelitian ILO memperkirakan pada 2025 saja, 22,9 persen dari total pekerja di Asia Tenggara atau setara dengan hampir 80 juta orang pekerja berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap GenAI di atas tingkat minimal. Namun, hanya 3,3 persen dari angkatan kerja, atau sekitar 11,7 juta pekerja, yang bekerja pada kategori pekerjaan dengan tingkat paparan tertinggi. Sementara sekitar 67 persen pekerja masih berada pada pekerjaan yang tidak teridentifikasi memiliki paparan terhadap AI generatif.
Singapura, sesuai laporan ILO itu, memiliki porsi pekerja terbanyak yang terpapar AI generatif lebih dari tingkat minimal, yaitu 42,2 persen dari total lapangan kerja. Hal ini mencerminkan struktur pekerjaan yang sangat intensif pengetahuan di negara tersebut. Para profesional, manajer, eksekutif, dan teknisi di Singapura mencakup sekitar 64 persen dari penduduk yang bekerja, terkonsentrasi di sektor jasa keuangan dan asuransi, informasi dan komunikasi, serta jasa profesional.
Setelah Singapura, urutan berikutnya ialah Filipina 28,1 persen. Hal ini mencerminkan ekonomi negara itu relatif telah berorientasi pada jasa dan dominasi sektor teknologi informasi dan manajemen proses bisnis. Urutan berikutnya adalah Indonesia 21,7 persen, Vietnam 20,8 persen, dan Thailand 20,6 persen.
Tingkat paparan AI generatif diperkirakan ILO cenderung masih terkonsentrasi pada aktivitas sektor jasa digital. Misalnya, jasa pengolahan informasi, administrasi, dan tugas-tugas intensif pengetahuan termasuk keuangan dan asuransi, informasi dan komunikasi, layanan profesional dan bisnis, administrasi publik, dan pendidikan.
Di laporan penelitian yang sama, ILO menekankan belum ada bukti gangguan pasar kerja yang besar karena adanya AI generatif. Meski demikian, lowongan pekerjaan level awal sudah terpapar AI generatif.
Di Filipina dan Thailand, misalnya, lowongan pekerjaan level awal, seperti pekerjaan admin sudah sangat terpapar AI generatif. Di dua negara ini, jumlah lowongan pekerjaan level awal menurun lebih tajam. Padahal, angkatan kerja baru biasanya lebih banyak memburu lowongan pekerjaan level awal.
“Laporan penelitian ini didasarkan pada evaluasi terhadap ratusan tugas yang menjadi bagian dari berbagai pekerjaan, dan penilaian mengenai apakah ada potensi bagi AI atau AI generatif secara khusus untuk mengotomatisasi sebagian dari tugas-tugas pekerjaan. Kami juga melakukan melakukan survei dan juga wawancara dengan para ahli,” ucap Christian saat menjadi narasumber dalam webinar, Rabu (15/7/2026).
Economic Affairs Officer di Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Asia dan Pasifik (UN ESCAP), Michal M Podolski, yang turut hadir di webinar, menilai laporan ILO itu memberikan gambaran yang seimbang mengenai AI. Menurut dia, hingga saat ini manfaat AI masih lebih besar dibanding risikonya. Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan seluruh pekerjaan manusia masih jauh dari kenyataan.
AI dan AI generatif diperkirakan lebih dulu diadopsi di pekerjaan yang berkutat pada perangkat lunak dan jasa digital. Di pekerjaan tersebut, banyak tugas rutin yang dapat diotomatisasi.
“Hal yang justru tidak boleh luput diperhatikan adalah kelompok pekerja, perusahaan UMKM, atau sektor yang tidak mampu memanfaatkan AI dan AI generatif. Sebab, mereka berisiko tertinggal dan menghadapi kesenjangan pendapatan yang semakin lebar,” ujarnya.
Bukan kondisi permanen
Senior Research Manager Lirneasia (organisasi think tank yang bergerak di isu kebijakan digital) Gayani Hurulle, yang juga hadir di webinar sama, menilai laporan ILO itu menarik. Sebab, ILO tidak hanya mengukur tingkat paparan pekerjaan terhadap AI, tetapi juga membandingkannya dengan kondisi nyata di pasar kerja di berbagai negara ASEAN.
Meski belum memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, perubahan mulai terlihat pada sejumlah pekerjaan dengan tingkat paparan AI yang tinggi di negara seperti Singapura, Thailand, dan Filipina, termasuk di kalangan pekerja muda. Dengan demikian, pemerintah perlu lebih serius memikirkan dampak teknologi itu terhadap generasi yang baru memasuki dunia kerja.
”Perkembangan AI dan AI generatif berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan gelombang teknologi sebelumnya sehingga laporan penelitian ILO itu tidak boleh dianggap sebagai kondisi yang permanen,” ucap dia.
Dia mencontohkan, di Amerika Serikat tingkat paparan AI pada tugas seorang petugas layanan pelanggan meningkat dari sekitar 50 persen saat model AI generatif pertama diluncurkan pada 2022, menjadi sekitar 80 persen setelah muncul model AI generatif yang lebih canggih pada akhir 2024 hingga awal 2025.
Dengan demikian, negara-negara ASEAN juga perlu aktif menyiapkan kebijakan untuk mengantisipasi segala kemungkinan perubahan pasar kerja yang ditimbulkan dari AI dan AI generatif. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan ialah memperkuat sistem perlindungan bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan, seperti asuransi pengangguran, dukungan pendapatan sementara, ataupun program peningkatan keterampilan.
Sejalan dengan pemikiran Gayani, sekitar 200 akademisi, ekonom, dan peraih nobel di dunia sudah mengeluarkan dukungan atas pernyataan “We Must Act Now : A Statement on AI’s Transformation of The Economy”. Pernyataan ini dipimpin oleh Erik Brynjolfsson, Jerry Yang and Akiko Yamazaki Professor and Senior Fellow di Stanford Institute for Human-Centered AI (HAI).
Ada tiga sub pernyataan. Pertama, AI mungkin akan menjadi jauh lebih kuat dalam 10 tahun ke depan. Lalu, AI dapat mendorong transformasi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, lebih besar daripada Revolusi Industri, tetapi berlangsung dalam jangka waktu yang jauh lebih singkat sehingga membawa risiko, termasuk hilangnya pekerjaan dalam skala besar, serta peluang seperti peningkatan besar dalam standar hidup.
Selanjutnya, para ekonom, pembuat kebijakan, dan pemimpin teknologi harus bertindak sekarang. Tujuannya untuk memahami ekonomi AI transformatif dan segera membangun insentif, pengaman, dan institusi yang dibutuhkan untuk mengarahkan AI ke arah yang melengkapi manusia dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dari Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) pada Jumat (17/7/2026) mengumumkan, Indonesia resmi menjadi salah satu dari 29 negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) melalui penandatanganan pada tanggal 16 Juli 2026 di Shanghai, China. Penandatangan dihadiri oleh Wakil Menkomdigi Angga Raka Prabowo mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto selaku ketua delegasi Pemerintah Indonesia.
Penandatanganan pendirian WAICO dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) AntÓnio Guterres sebagai bentuk dukungan PBB. WAICO diinisiasi sebagai organisasi internasional antar pemerintah yang bersifat independen dan non-profit di bawah kerangka kerja PBB untuk mempromosikan AI for good and for all di seluruh dunia.
“Keikutsertaan Indonesia dalam WAICO merupakan momentum strategis untuk memperkuat tata kelola AI nasional sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas negara,” ujar Angga.






Komentar (0)