JAKARTA, KOMPAS.com – Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Widyanta menilai negara baru hadir setelah kisah Heru Baskoro, putra penulis naskah Proklamasi, Sayuti Melik, mencuat ke publik.
Menurut dia, penanganan yang dilakukan pemerintah menunjukkan sistem perlindungan sosial bagi lanjut usia (lansia) masih bersifat reaktif, bukan preventif.
Widyanta mengatakan, kasus yang menimpa Heru Baskoro, putra Sayuti Melik, seharusnya menjadi peringatan keras atau wake up call untuk mengevaluasi sistem perlindungan lansia di Indonesia.
Baca juga: Kasus Putra Sayuti Melik Jadi Cermin Rapuhnya Perlindungan Lansia
"Respons Kementerian Sosial itu kan respons yang kuratif saja setelah kasusnya. Setelah empat bulan dia berada di kontrakan. Ini artinya tidak ada preventif sama sekali," kata Widyanta saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/7/2026).
Kondisi yang dialami putra salah satu tokoh penting Proklamasi menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem perlindungan sosial di Indonesia.
Widyanta menilai negara semestinya tidak hanya hadir ketika sebuah persoalan telah menjadi sorotan publik.
"Jadi negara hanya hadir sebagai pemadam kebakaran saja, responsif, reaksioner, mengambil pemberitaan itu lalu menangani itu. Kalau tidak, ya dibiarkan saja," lanjut Widyanta.
Baca juga: Uluran Tangan Negara untuk Anak Sayuti Melik yang Sakit-sakitan di Kontrakan Bekasi
Kasus tersebut seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh elemen bangsa dalam membangun sistem perlindungan sosial yang mampu menjangkau seluruh lansia sebelum mereka jatuh ke dalam kondisi rentan.
Widyanta juga menyoroti anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa seluruh anak tokoh bangsa hidup berkecukupan karena jasa orang tuanya.
Menurut dia, pandangan tersebut merupakan bentuk generalisasi yang keliru.
"Kalau kita melihat bahwa seolah-olah seluruh para tokoh bangsa ini karena anaknya makmur dan berada, saya tidak merasa itu benar. Itu bentuk generalisasi," ujarnya.
Ia mengatakan, masyarakat saat ini cenderung menggunakan ukuran yang lahir dari realitas pejabat masa kini untuk menilai kehidupan keluarga para pendiri bangsa.
Baca juga: Anak Sayuti Melik Dibawa ke STPL Bekasi, Mensos: Kita Didampingi, Nanti Akan Dibantu
Padahal, kata Widyanta, tokoh seperti Sayuti Melik merupakan sosok yang hidup sederhana dan tidak pernah menjadikan jabatan ataupun perjuangannya sebagai jalan mengumpulkan kekayaan.
"Nah, kita masih ingat Sayuti Melik itu adalah orang-orang bersahaja. Mereka sudah selesai dengan dirinya dan tidak pernah mau mengambil kekayaan negara untuk kekayaan dirinya sendiri," kata dia.
Menurut Widyanta, kondisi yang dialami putra Sayuti Melik justru mendekonstruksi anggapan bahwa keluarga tokoh bangsa selalu menikmati privilese.






Komentar (0)