Harga Emas Ambruk 2% Lebih ke US$ 3960, Rekor Terendah 8 Bulan

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas jatuh 2% seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (16/7/2026) ditutup di posisi US$ 3969,94 per troy ons. Harganya ambruk 2,3%.

Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 4 November 2025 atau delapan bulan terakhir.

Pelemahan kemarin juga menghapus tren kenaikan dua hari beruntun dengan penguatan sebesar 1,4%.

Harga emas sedikit membaik pada hari ini. Pada Jumat (17/7/2026), harga emas dibanderol US$ 3977,5 per troy ons atau menguat 0,19%.

Ambruknya emas tak bisa lepas dari kembali membaranya Timur Tengah.

Harga minyak bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan setelah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Kekhawatiran itu muncul setelah Iran meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Hal itu meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Baca: Perang Membara Tapi RI Banjir Kabar Baik, IHSG & Rupiah Tetap Pesta?

 

"Harga minyak kembali naik. Dengan harga Brent yang lebih tinggi, ekspektasi pasar bahwa imbal hasil obligasi AS akan terus meningkat juga menguat, bahkan ada kemungkinan kenaikan suku bunga sudah terjadi pada September. Itulah yang saat ini menekan harga emas," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, dikutip dari Reuters.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 53% bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga bergerak naik. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,2%, sehingga membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar.

Ketua The Fed Kevin Warsh pada pekan ini kembali menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi, meski tidak memberikan petunjuk spesifik mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Baca: Berkat Jokowi, Nanas RI Kini Menjajah China

 

Sementara itu, data ekonomi yang dirilis pekan ini menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda. Data pada Selasa menunjukkan inflasi konsumen AS melambat pada Juni, sedangkan data Rabu memperlihatkan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) mengalami penurunan.

"Walaupun beberapa data ekonomi jangka pendek mulai melemah, harga energi yang tetap tinggi akan menyulitkan The Fed mengambil sikap yang lebih dovish. Karena alasan yang sama, investor saat ini lebih memilih dolar AS dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil," kata analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, dalam sebuah catatan riset.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Open BO Berujung Maut, ASN BPN Kena Peras Sebelum Lompat dari Lantai 12
• 9 jam lalu
0
thumb
KPPU Medan Dorong Evaluasi Tata Kelola Distribusi BBM Pasca Gangguan Pasokan di Sumatera Utara
• 20 jam lalu
0
thumb
Jadwal Salat Kota Makassar 17 Juli 2026
• 12 jam lalu
0
thumb
Komisi XII: Tren Shifting ke BBM Subsidi Jadi Sebab Antrean SPBU
• 22 jam lalu
0
thumb
Tantangan Likuiditas Masih Membayangi Industri Perbankan
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.