Investor Lego Saham Semikonduktor, Bursa Asia Dibuka Melemah

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: Seorang pedagang mata uang berjalan melewati papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan di ruang perdagangan sebuah bank di Seoul, Korea Selatan, 3 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Jumat (17/7/2026), seiring aksi jual yang melanda saham-saham semikonduktor global setelah laporan keuangan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memicu kekhawatiran investor.

Selain itu, melansir CNBC, pasar juga mencermati pelemahan Wall Street yang masih dibayangi volatilitas sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).


Baca: Perang Membara Tapi RI Banjir Kabar Baik, IHSG & Rupiah Tetap Pesta?

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,6% pada awal perdagangan, sementara Topix melemah 0,3%. Di Australia, indeks acuan S&P/ASX 200 terkoreksi 0,2%, sedangkan bursa Korea Selatan tutup karena libur nasional.

Tekanan di pasar dipicu anjloknya ETF VanEck Semiconductor (SMH) yang merosot hampir 4% setelah saham TSMC turun lebih dari 2% usai merilis laporan kinerja kuartal II. Meski laba bersih perusahaan melonjak dibandingkan periode yang sama tahun lalu, TSMC juga menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) sepanjang tahun ini sehingga memicu kehati-hatian investor.

Pelemahan TSMC turut menyeret saham-saham semikonduktor lainnya, termasuk Marvell Technology, STMicroelectronics, dan Micron. Penurunan pada Kamis membuat ETF SMH telah merosot 6,9% sepanjang pekan ini dan berada di jalur untuk mencatat pelemahan mingguan ketiga dalam empat pekan terakhir.

Koreksi di sektor chip juga membebani indeks utama Wall Street sepanjang pekan berjalan. Indeks S&P 500 turun 0,6%, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,2% dan Nasdaq terkoreksi 1,5%.

Meski perdagangan saham AI, khususnya sektor semikonduktor, tengah mengalami tekanan, S&P 500 masih bertahan sekitar 1% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada awal Juni. Hal ini menunjukkan pasar saham AS secara keseluruhan masih relatif tangguh di tengah aksi ambil untung pada saham-saham teknologi.

Chief U.S. Strategist Ned Davis Research, Ed Clissold, mengatakan kondisi pasar saat ini belum menunjukkan tanda-tanda puncak siklus bullish yang besar. Menurutnya, pasar justru akan lebih mengkhawatirkan apabila indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 mengalami kinerja yang jauh lebih buruk dalam beberapa pekan terakhir.

Clissold menambahkan bahwa ekonomi Amerika Serikat kemungkinan hanya akan mengalami perlambatan dalam jangka pendek dan belum mengarah pada resesi. Ia juga menilai fase konsolidasi seperti saat ini dapat membantu mengurangi valuasi yang terlalu tinggi di sejumlah sektor sebelum pasar melanjutkan tren berikutnya.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Jurus Investor Amankan Likuiditas Saat Diadang Isu Perang -MSCI

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kesal Tunangan Diganggu, Pemuda di Lumajang Bacok Pria Pakai Samurai
• 13 jam lalu
0
thumb
Blok Masela Diperkirakan Beri Kontribusi Rp2.477 Triliun ke Ekonomi RI
• 19 jam lalu
0
thumb
Gamal Albinsaid Usul Dekomersialisasi MBG, Libatkan Pesantren dan Lembaga Sosial
• 16 jam lalu
0
thumb
Jadwal final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina di Partai Puncak
• 7 jam lalu
0
thumb
Waspada Sindikat Penipuan Online, Modus Telepon Ngaku Teman
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.