Sydney, Australia (ANTARA) - Berdiri di sudut jalan yang ramai di sebuah kota di China dalam suasana yang nyaris hening ketika kendaraan listrik (electric vehicle/EV) meluncur melewati deretan pepohonan menjadi "pengalaman aneh" bagi sejarawan Australia John Queripel, yang sudah lima kali mengunjungi China dalam satu dekade terakhir.
Pengalaman itu mengubah pandangan awalnya tentang bagaimana seharusnya sebuah kota metropolitan modern terdengar dan terlihat.
"Itu benar-benar sebuah transformasi, pengakuan akan betapa seriusnya China menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh krisis ekologi global," ujar Queripel, yang juga merupakan penulis dan pengamat sosial yang berbasis di Newcastle, Australia.
Dia kerap membagikan pandangannya mengenai pembangunan hijau China melalui berbagai artikel yang ditulisnya.
Menyadari bahwa China telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat selama setengah abad terakhir, dia mengatakan bahwa pertumbuhan seperti itu sering kali harus dibayar dengan kerusakan lingkungan.
"Namun dalam satu dekade terakhir, hal itu telah berubah secara drastis seiring China semakin menyadari pentingnya lingkungan alam yang baik sebagai dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia," ujarnya.
Queripel menilai komitmen terhadap lingkungan tersebut telah mengantarkan China menjadi pemimpin dunia di berbagai bidang, mulai dari pengembangan energi terbarukan, produksi EV, hingga program penanaman kembali hutan.
"Dalam setiap kunjungan ke China, kita pasti akan melihat begitu banyak panel surya dan turbin angin," katanya.
Dia menambahkan bahwa gerakan menuju energi bersih dan lingkungan berkelanjutan di China kini tidak dapat dihentikan, dan kemungkinan yang sangat nyata bahwa China bisa menjadi negara listrik pertama di dunia, dengan pasokan listrik yang semakin banyak dihasilkan dari sumber energi terbarukan, merupakan pencapaian luar biasa.
Hal lain yang juga menarik perhatiannya adalah bahwa "China secara bertahap menyadari pentingnya kekuatan tradisi masa lalu dalam membentuk hal baru," tulisnya dalam sebuah artikel opini yang baru-baru ini diterbitkan.
"Tradisi China selama 5.000 tahun kini semakin memengaruhi pembuatan kebijakan pemerintah, dan penghormatan yang tidak hanya ditujukan pada tradisi China, tetapi semua tradisi, menjadi landasan bagi Inisiatif Peradaban Global," tulis Queripel.
"Dalam kunjungan (saya) ke China, saya beruntung bisa merasakan langsung sebagian dari hal itu, mulai dari menginap di hutong di Beijing, menghabiskan waktu di Pingyao, hingga mengunjungi berbagai situs bersejarah, di antaranya Prajurit Terakota, Gua Yungang, dan Kuil Gantung Hengshan. Selain itu, film dan karya seni modern China juga semakin sering merujuk pada masa lalu China," ujarnya.
Saat pertama kali mengunjungi China pada 2016, Queripel terkesan dengan "sistem transportasi umum yang sangat efisien dan menjangkau wilayah yang luas, terutama jaringan kereta cepatnya, yang hingga kini terus berkembang dan telah mencapai sekitar 50.000 kilometer.
"Panjang jaringan kereta cepat itu melebihi gabungan seluruh jaringan serupa di dunia. Ini fenomenal. Bagi orang-orang seusia saya di China, perubahan yang terjadi pasti terasa seperti gegar budaya. Perubahannya sangat besar.," kata pria berusia 72 tahun itu kepada Xinhua.
Pengalaman itu mengubah pandangan awalnya tentang bagaimana seharusnya sebuah kota metropolitan modern terdengar dan terlihat.
"Itu benar-benar sebuah transformasi, pengakuan akan betapa seriusnya China menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh krisis ekologi global," ujar Queripel, yang juga merupakan penulis dan pengamat sosial yang berbasis di Newcastle, Australia.
Dia kerap membagikan pandangannya mengenai pembangunan hijau China melalui berbagai artikel yang ditulisnya.
Menyadari bahwa China telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat selama setengah abad terakhir, dia mengatakan bahwa pertumbuhan seperti itu sering kali harus dibayar dengan kerusakan lingkungan.
"Namun dalam satu dekade terakhir, hal itu telah berubah secara drastis seiring China semakin menyadari pentingnya lingkungan alam yang baik sebagai dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia," ujarnya.
Queripel menilai komitmen terhadap lingkungan tersebut telah mengantarkan China menjadi pemimpin dunia di berbagai bidang, mulai dari pengembangan energi terbarukan, produksi EV, hingga program penanaman kembali hutan.
"Dalam setiap kunjungan ke China, kita pasti akan melihat begitu banyak panel surya dan turbin angin," katanya.
Dia menambahkan bahwa gerakan menuju energi bersih dan lingkungan berkelanjutan di China kini tidak dapat dihentikan, dan kemungkinan yang sangat nyata bahwa China bisa menjadi negara listrik pertama di dunia, dengan pasokan listrik yang semakin banyak dihasilkan dari sumber energi terbarukan, merupakan pencapaian luar biasa.
Hal lain yang juga menarik perhatiannya adalah bahwa "China secara bertahap menyadari pentingnya kekuatan tradisi masa lalu dalam membentuk hal baru," tulisnya dalam sebuah artikel opini yang baru-baru ini diterbitkan.
"Tradisi China selama 5.000 tahun kini semakin memengaruhi pembuatan kebijakan pemerintah, dan penghormatan yang tidak hanya ditujukan pada tradisi China, tetapi semua tradisi, menjadi landasan bagi Inisiatif Peradaban Global," tulis Queripel.
"Dalam kunjungan (saya) ke China, saya beruntung bisa merasakan langsung sebagian dari hal itu, mulai dari menginap di hutong di Beijing, menghabiskan waktu di Pingyao, hingga mengunjungi berbagai situs bersejarah, di antaranya Prajurit Terakota, Gua Yungang, dan Kuil Gantung Hengshan. Selain itu, film dan karya seni modern China juga semakin sering merujuk pada masa lalu China," ujarnya.
Saat pertama kali mengunjungi China pada 2016, Queripel terkesan dengan "sistem transportasi umum yang sangat efisien dan menjangkau wilayah yang luas, terutama jaringan kereta cepatnya, yang hingga kini terus berkembang dan telah mencapai sekitar 50.000 kilometer.
"Panjang jaringan kereta cepat itu melebihi gabungan seluruh jaringan serupa di dunia. Ini fenomenal. Bagi orang-orang seusia saya di China, perubahan yang terjadi pasti terasa seperti gegar budaya. Perubahannya sangat besar.," kata pria berusia 72 tahun itu kepada Xinhua.






Komentar (0)