Jalan Terjal Menuju Sekolah, Cerita Gen Z Dampingi Anak-anak Mengejar Mimpi di Pedalaman NTT

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Akses pendidikan yang seharusnya menjadi hak dasar, ternyata belum bisa dirasakan oleh semua anak-anak di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Banyak anak-anak di kawasan 3T harus bersusah payah menempuh jalur terjal, sungai deras, hanya untuk belajar di sekolah.

Hal itu lah yang mendorong Gen Z bernama Hajrah Sofyanti Huzaini (26), menjadi relawan tiga tahun belakangan ini demi bisa membantu anak-anak di pedalaman Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) agar dapat mengakses pendidikan dengan baik.

Baca juga: Sedih Sekali Pendidikan Ditentukan Cuaca Cerita Influencer Gen Z Perjuangkan Pendidikan Anak di Wilayah 3T

Saat ini, ia tergabung dalam Komunitas bernama Taman Baca Anak Merdeka yang salah satu kegiatannya berfokus pada isu pendidikan di wilayah 3T.

Hajrah bercerita, di Ibu Kota Kabupaten Ende sendiri minat anak-anak untuk bersekolah sudah mengalami peningkatan, karena didukung dengan akses yang baik pula.

Dok: pribadi Kegiatan renovasi sekolah di pedalaman Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di sisi lain, banyak anak yang tinggal di kawasan kota berasal dari keluarga dengan ekonomi mampu, sehingga dapat terfasilitasi pendidikan dengan baik.

Namun, kondisi tersebut justru berbanding jauh di pedalaman Ende, tepatnya di Desa Roga, karena akses pendidikan masih sulit untuk ditempuh anak-anak.

"Akses ke sana juga lumayan jauh, apalagi anak-anak berada di kampung sebelah, sedangkan sekolahnya di kampung sini dan harus melintasi kali (sungai) setiap hari untuk pergi ke sekolah," ungkap Hajrah ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (14/7/2026).

Baca juga: Menembus Lumpur dan Sungai Deras, Kisah Influencer Gen Z Bangun Sekolah untuk Anak-anak di Pelosok Negeri

Anak-anak harus terjun langsung ke dalam sungai setiap kali mau berangkat ke sekolah di Desa Roga, karena belum adanya jembatan untuk menyeberang.

Hajrah mengatakan, apabila arus sungai sedang deras, maka durasi menyeberang yang harus ditempuh anak-anak tersebut sekitar 20 menit.

Belum lagi setelah menyeberang sungai, anak-anak tersebut masih harus menempuh jalan berkilo-kilo meter untuk sampai ke sekolahnya.

Kondisi sekolah, gaji guru, dan internet

Selain aksesnya yang sulit, kondisi sekolah di desa itu juga disebut sangat memprihatinkan, karena bangunannya banyak yang rusak dan fasilitas yang kurang memadai.

Kemudian, tenaga pengajar di kawasan NTT sendiri juga masih sangat minim, sehingga proses belajar dan mengajar masih sangat terbatas.

Di sisi lain, guru yang sampai saat ini mengabdikan diri, justru digaji dengan sangat minim.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Bahkan, ada pengajar yang sampai rela tidak menerima honor sepeser pun, karena sukarela.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
MK Gelar Sidang Putusan 23 Permohonan Uji Materi Hari Ini
• 8 jam lalu
0
thumb
Argentina Melaju ke Final, Lionel Scaloni Terkejut atas Kemenangan Dramatis: Tak Ada Kata-Kata
• 9 jam lalu
0
thumb
John Herdman Nikmati Nuansa Kekeluargaan dalam TC Timnas Indonesia di Bali untuk Piala AFF 2026: Seperti Suatu Persaudaraan
• 18 jam lalu
0
thumb
Penumpang Bandara Lombok Tembus 242.086 Selama Libur Sekolah
• 2 jam lalu
0
thumb
Mendagri Ungkap Akar Korupsi Kepala Daerah: Ongkos Politik Terlalu Mahal
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.