REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan pemerintah terus mengantisipasi dampak meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional, termasuk potensi kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah menggelar rapat khusus bidang ekonomi bersama jajaran menteri terkait.
"Sehari sebelumnya, sebagaimana yang saudara-saudara juga monitor, Bapak Presiden memimpin ratas khusus ekonomi yang dihadiri cukup banyak menteri yang berkenaan dengan masalah ekonomi. Tentu dengan dinamika di Timur Tengah yang kembali menghangat, kita perlu mengantisipasi beberapa hal, terutama menjaga masalah fiskal kita manakala menghangatnya dinamika itu, misalnya, akan berpengaruh kembali terhadap harga minyak," katanya, Rabu (15/7/2026).
Baca Juga
Selat Hormuz Pulih 50 Persen, Pasokan Minyak Dunia Berpeluang Kembali Lancar
Iran Jajaki Kembali Ekspor Minyak ke Jepang, Manfaatkan Keringanan Sanksi
Harga Minyak Dunia Turun ke Level Sebelum Konflik Iran, Pasokan Timur Tengah Pulih
Meski demikian, Prasetyo meminta masyarakat tidak khawatir terhadap pasokan energi nasional. "Meskipun demikian, dapat kami sampaikan bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Sekali lagi, berkenaan dengan suplai minyak kita aman meskipun dinamika di Timur Tengah maupun di Selat Hormuz kembali menghangat," katanya.
Sementara itu, Prasetyo menjelaskan Presiden juga secara rutin menerima laporan mengenai perkembangan ekonomi dari Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Menurutnya, paparan terbaru dari DEN berlangsung hampir tiga jam dan membahas berbagai kajian mengenai kondisi perekonomian nasional.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Bukan dipanggil, ya. Jadi memang secara rutin Bapak Presiden mendapatkan laporan dari berbagai pihak, salah satunya dari Dewan Ekonomi Nasional. Jadi memang secara rutin beliau, Pak Luhut, sering meminta waktu untuk menyampaikan hasil kajian-kajian dari Dewan Ekonomi Nasional. Menurut saya, kemarin sangat produktif. Hampir kurang lebih tiga jam Dewan Ekonomi Nasional memberikan paparan mengenai kondisi ekonomi kita," ujarnya.
Ia menambahkan, perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada dampak konflik terhadap harga minyak, tetapi juga terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Menurut Prasetyo, Presiden meminta seluruh jajaran pemerintah menjaga stabilitas ekonomi, baik dari sisi makro maupun mikro.
"Ya tentu, itu menjadi salah satu bagian ketika kita bicara ekonomi, mulai dari makro sampai ke mikronya. Jadi kalau saudara perhatikan, banyak menteri teknis yang pada tataran mikro. Bapak Presiden selain menerima atau meminta update dari seluruh program yang sedang dijalankan, juga memberikan penekanan untuk mempercepat pelaksanaannya," katanya.
Sebagai bagian dari langkah antisipasi, pihaknya mengatakan jajaran kementerian dan lembaga juga diminta mempercepat berbagai program yang mendorong ekonomi riil agar aktivitas perekonomian tetap bergerak di tengah ketidakpastian global. "Salah satu antisipasinya adalah menjaga makro. Teknisnya macam-macam, menjaga mikronya juga macam-macam. Salah satunya, ekonomi riil harus didorong. Itu menjadi program pemerintah, misalnya mengenai pembangunan Kampung Nelayan. Sarana nelayan diminta untuk dipercepat karena itu juga bagian dari menjaga ekonomi kita terus bergerak," katanya mengakhiri.
Komentar (0)