VIVA – Program Mandatori B50 disebut sebagai salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Kebijakan yang mengatur pencampuran bahan bakar solar dengan bahan bakar nabati (BBN) berbasis minyak sawit hingga 50 persen itu dinilai tidak hanya berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas.
Dampak tersebut mulai dari penghematan devisa hingga mendorong pertumbuhan industri sawit dalam negeri. Hal tersebut dipaparkan Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri.
Ia menjelaskan, program tersebut merupakan langkah pemerintah untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam domestik, khususnya minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), sebagai sumber energi terbarukan.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar karena merupakan salah satu produsen CPO terbesar di dunia dengan produksi nasional mencapai sekitar 53 juta ton setiap tahun. Ia mengatakan, swasembada energi menjadi kebutuhan strategis mengingat Indonesia masih bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Ketergantungan tersebut dinilai tidak hanya membebani devisa negara, tetapi juga meningkatkan risiko akibat berbagai faktor eksternal, seperti fluktuasi nilai tukar rupiah, volatilitas harga minyak dunia, hingga ancaman terhadap rantai pasok energi.
“Jadi, pengembangan sumber daya dalam negeri seperti bahan bakar nabati perlu terus diupayakan agar kita bisa swasembada energi. Program B50 adalah salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Rabu, 15 Juli 2026.
Menurut Tri, implementasi Program Mandatori B50 diperkirakan akan memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar. Selain menekan impor solar, kebijakan tersebut juga berpotensi menghemat devisa negara sekaligus memperbaiki neraca perdagangan sektor minyak dan gas.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa pelaksanaan program biodiesel sepanjang 2015 hingga 2025 telah menghasilkan penghematan devisa sebesar Rp722,9 triliun. Selain itu, pengolahan CPO menjadi biodiesel menciptakan nilai tambah mencapai Rp114,7 triliun.
Program biodiesel juga disebut telah mendukung penyerapan tenaga kerja hingga 10,9 juta orang di sektor sawit serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 228,41 juta ton CO₂.






Komentar (0)