Bisnis.com, BALIKPAPAN — Lapangan Usaha (LU) Pertambangan dan Penggalian Kalimantan Timur harus gigit jari pada kuartal I/2026.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltim Jajang Hermawan menyatakan sektor yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Bumi Mulawarman ini tercatat mengalami kontraksi 1,19% (yoy), atau berbalik arah dari capaian kuartal sebelumnya yang masih tumbuh positif 0,45% (yoy).
"Kontraksi pada LU Pertambangan dan penggalian disebabkan oleh pelemahan kinerja volume ekspor batu bara yang tercatat terkontraksi sebesar 7,17% (yoy)," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).
Dia menambahkan, menurunnya permintaan dari negara-negara mitra dagang utama, ditambah keterbatasan kapasitas produksi domestik, membuat kinerja sektor pertambangan bak berjalan di tempat.
Menurutnya, pelemahan tersebut merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkelindan. Di sisi produksi, penyesuaian kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) turut menjadi ganjalan.
Kebijakan ini membuat aktivitas produksi dan pengiriman batu bara belum berjalan optimal, sehingga pelaku usaha pun terpaksa mengerem laju operasionalnya.
Baca Juga
- Menkop Sebut Garap Proyek Tambang Bukan Untuk KopDes Merah Putih
- Tambang Ilegal di Muara Enim Gerus Potensi Penerimaan Negara Rp95,9 Miliar
- Usai Maluku, ESDM Sasar Penertiban Tambang Ilegal di Palembang hingga Manado
Sementara itu, dari sisi mitra dagang, kondisi di Tiongkok justru menunjukkan babak baru.
Produksi batu bara domestik negeri tirai bambu itu pada kuartal I/2026 membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih terkontraksi 0,63% (yoy).
Jajang menyebutkan membaiknya pasokan domestik Tiongkok ini bak pisau bermata dua bagi Kaltim, di satu sisi mencerminkan pemulihan ekonomi mitra dagang, namun di sisi lain justru mengurangi kebutuhan impor batu bara dari Indonesia.
Kabar baik justru datang dari sisi pembiayaan. Penyaluran kredit ke sektor pertambangan tetap tumbuh kencang sebesar 22,04% (yoy) pada kuartal I/2026.
Lebih jauh, faktor cuaca pun ikut menambah beban. Curah hujan di Kaltim pada kuartal I/2026 melonjak 41,11% (yoy), dengan rata-rata mencapai 278,3 mm per bulan.
Adapun dia menuturkan tingginya intensitas hujan ini menghambat aktivitas penambangan, hauling, hingga pengiriman batu bara, sehingga bagai sudah jatuh tertimpa tangga bagi pelaku usaha yang tengah menghadapi tekanan permintaan.






Komentar (0)