REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Saat Amerika Serikat memperingati 250 tahun berdirinya negara itu, sudah sepantasnya kita merenungkan bagaimana prinsip-prinsip demokrasi Amerika—seperti kebebasan beragama dan perlindungan dari diskriminasi—diterapkan dalam pengalaman warga Muslim Amerika pada abad ke-21.
Kaum Muslim telah menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dari sejarah, pendirian, dan perkembangan Amerika.
Baca Juga
Warga AS di Pemakaman Khamenei, Siapa Mereka dan Mengapa Picu Kemarahan di Washington?
Mengapa Iran Memilih Serang Negara Teluk Ketimbang Kapal Perang AS? Ini Kata Pakar Militer
Apakah Benar Lionel Messi Seorang Zionis? Ini Kata Media Israel
Namun, sebagian besar masyarakat Amerika tidak mengetahui bahwa umat Islam telah hadir di wilayah Amerika jauh sebelum negara itu merdeka dari Inggris. Bahkan, banyak budak Afrika yang dibawa ke Amerika pada masa perbudakan adalah pemeluk Islam.
Para sejarawan memperkirakan bahwa sekitar 15 hingga 30 persen budak yang dibawa melintasi Samudra Atlantik berasal dari wilayah mayoritas Muslim di Afrika Barat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Banyak di antara mereka adalah orang-orang terdidik. Berbeda dengan sebagian besar budak lainnya, cukup banyak dari mereka yang mampu membaca dan menulis dalam bahasa Arab.
Para budak Afrika itu dipaksa oleh pemilik mereka yang beragama Kristen untuk meninggalkan Islam.
Meski demikian, banyak yang tetap berusaha menjalankan ajaran agamanya secara diam-diam, terutama dalam urusan makanan dan minuman, seperti menghindari daging babi dan minuman keras, merayakan hari-hari besar keagamaan, serta mempertahankan pakaian tradisional mereka sejauh memungkinkan.
Tidak banyak orang Amerika yang menyadari bahwa Thomas Jefferson pernah terpengaruh oleh Alquran. Karena rasa ingin tahunya terhadap sistem hukum berbagai peradaban, ia membeli terjemahan bahasa Inggris Alquran ketika belajar hukum di Williamsburg, Virginia.
Komentar (0)