Pedagang menyortir tomat dari petani
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Buruh mengangkut sayur yang akan dijual ke Pasar Legi, Surakarta.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Pedagang memindahkan sayuran yang disetor petani di Pasar Cepogo.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Mardiyanto berhati-hati saat memindahkan keranjang berisi tomat ke dalam bak mobil Mitsubishi Colt T120 jadul berwarna abu-abu yang diparkir di Pasar Sayur Cepogo, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (15/7/2026). Sejumlah komoditas sayur lainnya telah ditata rapi di bak mobil keluaran tahun 1970-an itu sebelum diangkut menuju Pasar Legi, Surakarta.
Rutinitas menjual hasil panen dari sentra sayur Cepogo ke Pasar Legi telah dijalani pria itu selama 20 tahun. Namun, kali ini terbersit kekhawatiran akan harga jual beberapa jenis sayur yang sedang anjlok rendah-rendahnya.
“Harga jual nanti sak tekane (sebisanya),” ujar Mardiyanto. Sikap pasrah tersebut dipilih oleh pria itu dan para tengkulak serta petani sayur lainnya agar mereka tetap tenang menjalani hidup dalam kondisi perekonomian yang tengah sulit dan harga jual sayur yang fluktuatif.
Harga tomat, misalnya, kini hanya Rp 4.000 per kilogram. Saat harga jualnya baik, komoditas itu laku dijual hingga di atas Rp 10.000 per kilogram.
Daun selada juga tengah berada pada salah satu titik terendahnya yakni Rp 3.000 per kilogram. Selada (Lactuca saliva), kata Mardiyanto, sempat mencapai Rp 25.000 per kilogram.
Naik turunnya harga jual sayuran kerap menjadi misteri bagi para petani pada kawasan sentra sayur di sekitar Gunung Merbabu dan Merapi itu . Bagi mereka, belum ada rumus pasti yang bisa menentukan hasil panen mereka beberapa bulan mendatang akan menghasilkan keuntungan berlipat ganda atau biasa-biasa saja.
Petani peserta kegiatan Poslukal memanen semangka di Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, DIY.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Semangka hasil panen mereka memiliki berat sekitar lima kilogram.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Poslukal bekerjasama dengan toko waralaba untuk memasarkan hasil panen mereka.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Peningkatan pengetahuan bagi petani dalam hal agrobisnis pun menjadi semakin penting agar potensi rugi mereka dapat dikurangi. Para petani di Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, misalnya, berkesempatan mendongkrak kapasitas mereka dalam hal agrobisnis melalui pelatihan sekolah lapangan yang mereka lakukan di lahan desa mereka.
Lebih dari 30 petani dari 21 dusun di desa itu berpartisipasi dalam kegiatan Poslukal (Pos Penyuluhan Kalurahan) yang diadakan sejak beberapa bulan terakhir. Mereka menggunakan salah satu lahan desa seluas sekitar 2.800 meter persegi untuk berlatih tata cara budidaya tanaman yang tepat dan terukur.
Mereka juga belajar cara memasarkan produk mereka agar hasil panen dapat dikonversi menjadi pendapatan secara maksimal. Menurut ketua tim penanaman Gunardi, Poslukal bekerjasama dengan salah satu toko waralaba nasional untuk menyerap hasil panen petani.
Siang itu, puluhan anggota Poslukal beramai-ramai memanen buah semangka yang telah mereka tanam bibitnya 55 hari sebelumnya. Buah semangka jenis lentera hasil panen petani memiliki berat sekitar lima kilogram. Sebagian besar hasil panen dibeli oleh toko waralaba dan sisanya dijual ke warga sekitar dengan harga Rp 8.000 per kilogram.
“Selama proses tanam, mereka didampingi PPL (petugas penyuluh lapangan) dan petugas dari Dinas Pertanian,” ujar Gunardi. Melalui pendampingan tersebut para petani diharapkan dapat mempelajari seluk beluk agrobisnis secara tepat dan menularkan informasi itu ke masyarakat sekitar.






Komentar (0)