Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup menguat 23 poin ke level Rp18.068 per dolar AS dalam penutupan perdagangan Rabu (15/7/2026). Walau terapresiasi, sentimen global berupa konflik AS-Iran yang kembali memanas berisiko menekan rupiah dalam perdagangan berikutnya.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (16/7) akan ditutup melemah.
"Sore ini mata uang rupiah ditutup menguat 23 poin di level Rp18.068, dari penutupan sebelumnya di level Rp18.091. Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp18.060 sampai Rp18.110," kata Ibrahim, Rabu (15/7/2026).
Sentimen negatif yang diperkirakan akan menekan rupiah adalah eskalasi perang global yang belum mereda. Terbaru, Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap semua pelabuhan Iran. Sebaliknya, Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur AS di kawasan tersebut.
Selain itu, Iran juga mengatakan telah kembali menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur sentral perdagangan minyak global. Kondisi ini semakin memperburuk gencatan senjata yang dicapai pada bulan Juni lalu.
"Kenaikan ketegangan dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu akan mengarah pada penghentian permanen perang yang telah melanda negara-negara tetangga Iran," jelasnya.
Baca Juga
- Rupiah Tertekan, Utang Luar Negeri BI Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
- Alasan Nilai Tukar Rupiah Menguat Hari Ini, Rabu 15 Juli 2026
- Kurs Dolar AS BCA, BRI, Mandiri, dan BNI Hari Ini saat Rupiah Menguat, Rabu (15/7)
Sementara itu, sentimen domestik datang dari kondisi fiskal negara yang sedang ditekan beban utang. Ibrahim menjelaskan, kebutuhan penarikan utang baru secara bruto pada tahun ini diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp1.768 triliun.
Di sisi lain, Ibrahim mencatat bahwa pemerintah harus membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun tahun ini. Posisi utang pemerintah pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp9.638 triliun.
"Dengan tambahan pembiayaan utang neto sebesar Rp868 triliun serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan menambah nilai utang sekitar Rp100 triliun, posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar Rp10.600 triliun," kata Ibrahim.






Komentar (0)