Anomali Free Float Saham Konglomerat Dato Sri Tahir MPRO, SRAJ dan BNII

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Perubahan metodologi pemantauan saham terkonsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) menjerat emiten-emiten milik konglomera. Salah satu konglomerat yang terdampak adalah emiten milik Dato Sri Tahir. 

Saham pendiri Grup Mayapada itu disorot lantaran masuk ke daftar merah saham HSC, di antaranya PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), dan PT Bank Mayapada Internasional Tbk (BNII).  Hal itu usai otoritas BEI merevisi metodologi saham HSC dengan menambahkan kriteria baru, yakni price impact ratio untuk saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.

Di tengah revisi itu terlihat anomali pada struktur kepemilikan saham emiten yang dikendalikan konglomerat Dato Sri Tahir itu. Meski tingkat konsentrasi kepemilikan sahamnya tinggi, free float ketiga emiten tersebut masih berada di atas ketentuan minimum Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data BEI, saham PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan mencapai 99,14%.  Sementara PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) sebesar 97,21%, dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) bahkan mencapai 99,99%.

Di sisi lain, porsi free float masing-masing saham tercatat BNII sebesar 11,04%, 16% free floar SRAJ, dan MPRO sebanyak 15,11%. Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya mengingatkan investor untuk memahami risiko sebelum berinvestasi pada saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC).

Menurutnya, risiko pertama adalah likuiditas. Tipisnya porsi free float membuat investor terutama yang memiliki kepemilikan dalam jumlah besar, lebih sulit melepas saham tanpa memengaruhi harga di pasar.

Selain itu, saham HSC juga memiliki risiko volatilitas yang lebih tinggi. Hendry menjelaskan, harga saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dapat bergerak naik maupun turun secara tajam meski ditransaksikan dalam volume relatif kecil. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga tidak selalu mencerminkan kinerja fundamental perusahaan.

“Ketiga, resiko tekanan jual struktural bila MSCI/FTSE menyesuaikan bobot, dapat muncul tekanan jual dari passive fund. Investor yang masuk belakangan berisiko menghadapi tekanan tersebut,” ucap Hendry dalam keterangannya, Rabu (15/7). 

Hendry menyebut investor juga perlu mencermati risiko valuasi pada saham HSC. Ia menyoroti pada penilaian MSCI yang menyebut terbatasnya transparansi struktur kepemilikan dapat memengaruhi proses pembentukan harga yang wajar. Ia menilai harga pasar pada saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi perlu digunakan secara lebih hati-hati sebagai acuan valuasi.

Selain itu, saham HSC juga berpotensi menghadapi pengawasan lebih ketat dari BEI. Menurut Hendry, status HSC dapat meningkatkan peluang suatu saham memperoleh notasi khusus. Baik masuk dalam daftar Unusual Market Activity (UMA), maupun menjadi objek tindakan pengawasan lainnya apabila memenuhi kriteria yang ditetapkan bursa.

 Sebelumnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan bursa akan melakukan penyaringan (screening) terhadap saham-saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi saham HSC.

Jeffrey menyebut price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yaitu rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula velocity-nya.

“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).  

Selain itu Jeffrey mengatakan evaluasi berdasarkan price impact ratio akan diterapkan secara berkala setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Peninjauan tersebut akan mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.

Di sisi lain, trigger factor yang digunakan dalam pengawasan tetap akan berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental, tidak mengikuti jadwal evaluasi berkala. Dengan kriteria baru itu, kata Jeffrey, BEI akan segera mengumumkan 37 saham baru yang masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC).

Penambahan itu membuat jumlah saham yang masuk dalam daftar HSC naik menjadi 51 saham.  

“Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham, sekali lagi ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kami lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien,” ucap Jeffrey.

Berikut 34 emiten baru yang masuk daftar HSC per 14 Juli:

No.Kode EmitenPerusahaanTerkonsentrasi (%)1AGIIPT Samator Indo Gas Tbk97,75%2ALIIPT Ancara Logistics Indonesia Tbk97,62%3BBHIPT Allo Bank Indonesia Tbk92,71%4BBSIPT Krom Bank Indonesia Tbk99,95%5BELIPT Global Digital Niaga Tbk93,83%6BINAPT Bank Ina Perdana Tbk94,79%7BNIIPT Bank Maybank Indonesia Tbk99,14%8BNLIPT Bank Permata Tbk99,92%9*BRENPT Barito Renewables Energy Tbk97,31%10BTPNPT Bank SMBC Indonesia Tbk99,78%11BYANPT Bayan Resources Tbk98,50%12CMNPPT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk96,64%13CMNTPT Cemindo Gemilang Tbk99,41%14DCIIPT DCI Indonesia Tbk99,96%15*DGWGPT Delta Giri Wacana Tbk97,35%16DNETPT Indoritel Makmur Internasional Tbk98,06%17*DSSAPT Dian Swastatika Sentosa Tbk95,76%18ELPIPT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk98,90%19FAPAPT FAP Agri Tbk99,77%20FILMPT MD Entertainment Tbk92,98%21FITTPT Hotel Fitra International Tbk95,00%22GEMSPT Golden Energy Mines Tbk99,24%23*HATMPT Habco Trans Maritima Tbk96,09%24IFSHPT Ifishdeco Tbk99,77%25KINGPT Hoffmen Cleanindo Tbk98,40%26KONIPT Perdana Bangun Pusaka Tbk95,08%27LIFEPT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk99,21%28MCOLPT Prima Andalan Mandiri Tbk98,62%29MEGAPT Bank Mega Tbk95,68%30*MGLVPT Panca Anugrah Wisesa Tbk95,94%31*MGROPT Mahkota Group Tbk93,76%32MKPIPT Metropolitan Kentjana Tbk97,02%33MLPTPT Multipolar Technology Tbk99,42%34MORAPT Ekamas Mora Republik Tbk95,65%35MPROPT Maha Properti Indonesia Tbk99,99%36PGUNPT Pradiksi Gunatama Tbk99,95%37POLUPT Golden Flower Tbk99,94%38PRAYPT Famon Awal Bros Sedaya Tbk99,84%39RISEPT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk98,03%40*RLCOPT Abadi Lestari Indonesia Tbk95,35%41*ROCKPT Rockfields Properti Indonesia99,85%42SATUPT Kota Satu Properti Tbk94,27%43SILOPT Siloam International Hospitals Tbk96,70%44SMARPT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk99,58%45SOHOPT Soho Global Health Tbk99,93%46*SOTSPT Satria Mega Kencana Tbk98,35%47SRAJPT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk97,21%48STTPPT Siantar Top Tbk94,95%49*TCPIPT Transcoal Pacific Tbk94,10%50*WBSAPT BSA Logistics Indonesia Tbk95,82%51YUPIPT Yupi Indo Jelly Gum Tbk99,91%

*daftar HSC yang masuk sebelum 14 Juli 2026.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menpora Erick Thohir Siapkan Blueprint Kepemudaan Jelang Seabad Sumpah Pemuda
• 18 jam lalu
0
thumb
Kemnaker Gencarkan Tempat Kerja Ramah Keluarga untuk Tingkatkan Produktivitas dan Dukung Indonesia Emas 2045
• 22 jam lalu
0
thumb
Bertahan Hidup di Tengah Bencana, Warga Venezuela Kumpulkan Barang di Reruntuhan untuk Dijual
• 13 jam lalu
0
thumb
5 Skincare yang Wajib Digunakan Pria agar Kulit Tetap Sehat, Bersih, dan Percaya Diri
• 14 jam lalu
0
thumb
Kejagung Pastikan Timsus Kasus Febrie Diisi Jaksa yang Dinilai Tak Resisten
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.