Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak sideways atau mendatar pada perdagangan Rabu (15/7/2026), di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membayangi pergerakan pasar.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 28,51 poin atau 0,47 persen ke level 6.068. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut naik 2,61 poin atau 0,44 persen menjadi 601,50.
Ratna Lim Kepala Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan, IHSG akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan rentang pergerakan di level 5.950 hingga 6.125.
“IHSG berpeluang konsolidasi di rentang level 5.950-6.125 pada perdagangan Rabu,” ujar Ratna dilansir dari Antara.
Dari pasar global, sentimen positif datang dari Amerika Serikat setelah inflasi tahunan pada Juni 2026 melambat menjadi 3,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy), turun dari 4,2 persen pada Mei 2026. Sementara inflasi inti juga turun menjadi 2,6 persen dari sebelumnya 2,9 persen.
Selain itu, inflasi tingkat produsen atau Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat diperkirakan ikut melambat menjadi 6,2 persen pada Juni dari 6,5 persen pada bulan sebelumnya.
Menurut Ratna, perlambatan inflasi tersebut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
“Data inflasi yang melambat menurunkan ekspektasi potensi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini,” ujarnya.
Dari kawasan Asia, China mencatatkan kinerja perdagangan yang lebih kuat. Ekspor negara tersebut tumbuh 27 persen secara tahunan pada Juni 2026, meningkat dibandingkan 19,4 persen pada Mei. Impor juga naik menjadi 36 persen dari sebelumnya 27,4 persen.
Peningkatan ekspor dan impor mendorong surplus neraca perdagangan China menjadi 125,62 miliar dolar AS pada Juni, naik dari 105,43 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.
Meski demikian, investor masih menunggu rilis data produk domestik bruto (PDB) China kuartal II 2026 yang diperkirakan melambat menjadi 4,5 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5 persen pada kuartal pertama.
Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia menambah kriteria baru dalam metodologi penyaringan saham dengan memasukkan indikator Price-Impact Ratio untuk mendeteksi saham yang berpotensi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Melalui indikator tersebut, BEI akan memantau saham-saham yang mengalami lonjakan harga signifikan tetapi tidak didukung oleh aktivitas transaksi yang memadai.
Price-Impact Ratio merupakan perbandingan antara perubahan harga saham dengan tingkat velocity perdagangan, yakni rata-rata volume transaksi dibandingkan jumlah saham yang beredar di publik.
Saham dengan volume transaksi rendah namun mengalami kenaikan harga yang tinggi akan memiliki Price-Impact Ratio besar dan berpotensi masuk dalam kategori HSC.
Seiring penerapan kriteria baru tersebut, BEI menambahkan 37 saham ke dalam daftar HSC sehingga total saham yang masuk dalam daftar pengawasan kini menjadi 51 emiten.
Sementara itu, mayoritas bursa global ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Indeks Euro Stoxx 50 naik 0,12 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,30 persen, DAX Jerman bertambah 0,13 persen, dan CAC 40 Prancis naik 0,03 persen.
Di Wall Street, indeks S&P 500 menguat 0,38 persen menjadi 7.543,59, Nasdaq Composite melonjak 1,10 persen ke level 29.586,29, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 0,02 persen menjadi 52.508,27.
Pada perdagangan pagi di Asia, indeks Nikkei Jepang menguat 1,04 persen, Hang Seng Hong Kong naik 1,34 persen, Strait Times Singapura bertambah 0,87 persen, sementara indeks Shanghai Composite melemah 0,19 persen. (ant/saf/ipg)





Komentar (0)