Bom Bunker Buster AS Hancurkan Gudang Rudal Bawah Tanah Iran, Situasi Berubah Drastis!

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com— Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak yang semakin berbahaya. Militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan gelombang serangan terbaru dengan menggunakan bom penghancur bunker (bunker buster) untuk menghancurkan gudang rudal bawah tanah milik Iran, sementara berbagai fasilitas strategis di negara tersebut menjadi sasaran serangan presisi.

Di tengah eskalasi yang terus meningkat di kawasan Selat Hormuz, perhatian dunia juga mulai bergeser ke kawasan Selat Taiwan, setelah muncul berbagai laporan yang menyebut adanya dinamika baru terkait kebijakan Beijing terhadap jaringan simpatisan pro-Tiongkok di Taiwan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa krisis geopolitik saat ini tidak lagi hanya terbatas pada Timur Tengah, tetapi juga berpotensi meluas ke kawasan Indo-Pasifik.

Amerika Serikat dan Iran Terus Berebut Kendali Selat Hormuz

Selama beberapa hari terakhir, ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus meningkat.

Selat yang menjadi jalur pelayaran sekitar seperlima perdagangan minyak dunia tersebut kembali menjadi pusat konfrontasi setelah Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya terhadap berbagai fasilitas strategis Iran.

Di saat yang sama, Iran terus melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik maupun pesawat nirawak (drone) ke sejumlah negara di kawasan Teluk yang dianggap mendukung operasi militer Washington.

Meski demikian, hingga kini pemerintah Amerika Serikat masih belum memberikan izin kepada Israel untuk ikut terlibat secara langsung dalam operasi militer tersebut.

Sejumlah analis menilai langkah Presiden Donald Trump tersebut menunjukkan bahwa Washington masih berusaha menjaga agar konflik tidak berkembang menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.

Namun di sisi lain, berbagai tindakan Iran justru dinilai semakin memperbesar risiko eskalasi.

IRGC Klaim Serang Pangkalan-Pangkalan Militer Amerika

Menurut laporan Reuters, pada Senin, 13 Juli 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim berhasil menyerang:

Namun berbagai laporan dari sejumlah sumber independen memberikan gambaran yang berbeda.

Sistem pertahanan udara Bahrain, Kuwait, dan Yordania dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar rudal maupun drone yang ditembakkan Iran.

Sementara itu, pemerintah Oman juga tidak mengeluarkan laporan mengenai adanya kerusakan terhadap sistem radar nasionalnya.

Akibatnya, klaim keberhasilan operasi militer yang diumumkan IRGC kembali dipertanyakan oleh banyak pengamat militer internasional.

Iran Kembali Jadikan Selat Hormuz Sebagai Alat Tekanan

Masih pada hari yang sama, Garda Revolusi Iran kembali mengeluarkan pernyataan yang menempatkan keamanan jalur energi dunia sebagai alat tawar politik.

Iran menegaskan bahwa satu-satunya cara mengembalikan normalisasi pelayaran di Selat Hormuz adalah dengan menghentikan seluruh intervensi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Teheran juga memperingatkan bahwa apabila operasi militer Washington terus berlanjut, maka gangguan terhadap industri minyak dan gas dunia akan menjadi jauh lebih besar.

Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan strategi Iran yang berupaya menggunakan posisi strategis Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan terhadap komunitas internasional.

Laporan Dugaan Serangan terhadap Armada Kelima AS

Pakar intelijen sumber terbuka Babak Taghvaee pada 13 Juli 2026 menyatakan bahwa salah satu rudal Iran dilaporkan menghantam kawasan Markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Manama, Bahrain.

Menurut laporan tersebut, serangan memicu kebakaran cukup besar.

Namun hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi mengenai lokasi pasti kebakaran tersebut.

Belum diketahui apakah api benar-benar terjadi di dalam kompleks markas militer Amerika Serikat atau hanya mengenai fasilitas penyimpanan bahan bakar yang berada di sekitar kawasan tersebut.

CENTCOM Resmikan Gelombang Keempat Operasi Militer

Pada 12 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan gelombang keempat operasi militer terhadap Iran.

Dalam operasi tersebut, militer Amerika menggunakan berbagai senjata berpemandu presisi untuk menyerang puluhan sasaran strategis.

Menurut CENTCOM, tujuan utama operasi adalah:

Operasi ini merupakan kelanjutan dari beberapa gelombang serangan sebelumnya yang secara bertahap menargetkan sistem pertahanan udara, fasilitas rudal, pangkalan militer, hingga jaringan logistik Iran.

Bandar Abbas Diguncang Belasan Ledakan

Di kota pelabuhan Bandar Abbas, warga melaporkan sedikitnya 14 ledakan terdengar hanya dalam rentang waktu sekitar delapan menit.

Bandar Abbas merupakan salah satu pusat operasi Angkatan Laut Iran sekaligus pintu keluar utama menuju Selat Hormuz.

Serangan di kawasan tersebut diperkirakan bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengendalikan lalu lintas maritim di wilayah strategis tersebut.

Bandara Strategis Aghajari Ikut Dibombardir

Selain Bandar Abbas, sasaran penting lainnya berada di Provinsi Khuzestan.

Militer Amerika dilaporkan membombardir Bandar Udara Migas Aghajari.

Bandara ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi karena berada sangat dekat dengan Lapangan Minyak Aghajari, salah satu ladang minyak tertua dan terbesar yang dimiliki Iran.

Selama ini bandara tersebut menjadi jalur utama bagi:

Khuzestan sendiri merupakan provinsi penghasil minyak terbesar di Iran sehingga setiap gangguan terhadap infrastruktur wilayah ini dapat berdampak langsung terhadap kapasitas produksi energi nasional.

Bom Bunker Buster Hantam Gudang Rudal Bawah Tanah

Salah satu serangan paling signifikan terjadi di Pangkalan Tempur Taktis Keempat Angkatan Udara Iran yang berada di Dezful, Provinsi Khuzestan.

Dalam operasi tersebut, militer Amerika Serikat dilaporkan menggunakan bom penghancur bunker (bunker buster).

Senjata khusus ini dirancang untuk menembus lapisan tanah maupun beton bertulang sebelum meledak di dalam sasaran.

Target utama operasi adalah gudang rudal bawah tanah yang berada di dalam kompleks pangkalan tersebut.

Tidak lama setelah bom menghantam sasaran, muncul ledakan susulan dalam skala besar, yang diduga berasal dari rudal maupun amunisi yang tersimpan di bawah tanah.

Ledakan berantai tersebut menjadi indikasi bahwa sasaran utama kemungkinan berhasil dihantam.

Dugaan Penggunaan HIMARS Jarak Jauh

Babak Taghvaee juga menyampaikan analisis bahwa Amerika Serikat diduga menggunakan sistem roket HIMARS yang ditempatkan di Kuwait.

Menurutnya, sistem tersebut meluncurkan rudal berjarak tempuh lebih dari 500 kilometer menuju wilayah Khuzestan.

Salah satu sasaran yang disebut terkena serangan adalah infrastruktur penyediaan air di provinsi tersebut.

Hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai penggunaan sistem HIMARS dalam operasi tersebut.

Iran Akui Fasilitas Air Terkena Serangan

Pemerintah Iran menyatakan bahwa dalam serangan terbaru pada 13 Juli 2026, sebuah rudal menghantam stasiun pompa air pertanian di Mahshahr, Provinsi Khuzestan.

Akibat serangan tersebut:

Pihak berwenang Iran juga mulai melakukan penilaian terhadap dampak kerusakan terhadap sistem distribusi air di kawasan tersebut.

Ancaman Balasan terhadap Fasilitas Air Negara-Negara Teluk

Babak Taghvaee memperingatkan bahwa apabila benar Amerika Serikat mulai menargetkan fasilitas penyediaan air Iran, maka Teheran berpotensi melakukan aksi balasan terhadap instalasi serupa di negara-negara Teluk.

Salah satu fasilitas yang dinilai paling rentan adalah pabrik desalinasi air laut di Kuwait, yang menjadi sumber utama pasokan air bersih bagi negara tersebut.

Serangan terhadap infrastruktur semacam itu berpotensi memicu dampak kemanusiaan yang jauh lebih besar dibandingkan serangan terhadap sasaran militer biasa.

Infrastruktur Strategis Iran Semakin Tertekan

Rangkaian operasi terbaru menunjukkan bahwa sasaran utama Amerika Serikat kini tidak lagi terbatas pada pangkalan militer dan sistem pertahanan udara.

Serangan mulai menyasar berbagai infrastruktur strategis yang menopang kemampuan militer dan logistik Iran, termasuk:

Di sisi lain, strategi Iran yang berupaya menggunakan ancaman terhadap pasokan energi dunia sebagai alat tekanan justru dihadapkan pada kenyataan bahwa sejumlah fasilitas vital miliknya sendiri mengalami kerusakan akibat gelombang serangan Amerika Serikat.

Dengan eskalasi yang terus meningkat di Selat Hormuz serta munculnya berbagai dinamika geopolitik baru di kawasan lain, situasi keamanan internasional masih berada dalam fase yang sangat dinamis dan berpotensi berkembang lebih luas dalam waktu dekat. (***)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sinopsis Drama China Till The End of The Moon yang Dibintangi oleh Bai Lu, Kisah Tragis Raja Iblis dan Dewi Perang
• 20 jam lalu
0
thumb
Sosiolog: Putus Siklus Doom Spending Lewat Literasi Keuangan dan Regulasi Paylater
• 11 jam lalu
0
thumb
AI Prediksi Argentina Tantang Spanyol di Final Piala Dunia 2026, Singkirkan Inggris dengan Skor 2-1
• 11 jam lalu
0
thumb
Gus Miftah Disebut Terima Dana Rp100 Juta dari Korupsi DJKA, KPK Pertimbangkan untuk Disita
• 22 jam lalu
0
thumb
Editorial MI: Tak Pernah Kehabisan Koruptor
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.