Kehadiran biodiesel B50 akan menggantikan B40 yang sebelumnya sudah dijual oleh Pertamina melalui solar bersubsidi biosolar. Berdasarkan pantauan di situs resmi Pertamina, Biosolar subsidi dibanderol Rp6.800/liter di seluruh wilayah di Indonesia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 telah menjangkau 57,6 persen dari total Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menyalurkan biosolar di Indonesia.
Implementasi B50 mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 yang mengatur kewajiban pencampuran bahan bakar nabati sebesar 50 persen ke dalam minyak solar. Pemerintah juga memberikan masa transisi bagi badan usaha bahan bakar minyak yang masih memiliki persediaan Biodiesel B40. Baca Juga:
Harga Sewa Baterai Motor Listrik VinFast Evo
Masa transisi tersebut berlangsung hingga 30 September 2026. Setelah stok B40 habis, pemerintah menargetkan seluruh penyaluran biosolar di Indonesia telah menggunakan Biodiesel B50 mulai 1 Oktober 2026.
Secara konsep, B50 merupakan pengembangan dari program biodiesel yang telah diterapkan sebelumnya, seperti B35 dan B40. Perbedaannya terletak pada porsi campuran bahan baku nabati yang semakin besar.
Profesor di bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels dari Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, S.T., M.Eng., Dr.Eng., menjelaskan B50 merupakan bahan bakar campuran antara 50% biodiesel (umumnya berbasis Fatty Acid Methyl Ester dari minyak sawit) dan 50% solar (bahan bakar diesel fosil).
“Biodiesel itu bahan bakar alternatif yang renewable, diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujar Nurkholis dikutip dari situs prasetya.ub.ac.id.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)






Komentar (0)