Hujan dengan hawa panas mewarnai pagi Minggu (14/6/2026) di Desa Sukarela Jaya di Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Pagi itu warga berencana menemani ”Kompas” untuk melihat sumber mata air banda yang mengalir deras di hulu Sungai Roko-roko. Setelah reda, kami pun bergegas memulai perjalanan dengan menyeberangi jembatan kayu. Canda tawa anak-anak yang bermain di pinggir sungai seolah menjadi himne pembuka perjalanan.
Pagi itu, Kompas ditemani oleh Wilman, Hastomo (40), Sanudin (64), dan Mando. Mereka adalah warga desa setempat. Hastomo dan Sanudin merupakan pemilik kebun yang telah dikelola turun temurun.
Perjalanan menyusuri jalan setapak melintasi kebun-kebun warga. Mulai dari kebun jambu mete, pala, cengkeh hingga kelapa. Dalam perjalanan kami bertemu dengan warga yang tengah mengumpulkan buah pala di area kebunnya. Jumlahnya tidak seberapa karena belum masa panen. Setelah bertegur sapa, perjalanan pun berlanjut melintas di bawah pepohonan kelapa yang menjulang tinggi. Pemandangan yang sederhana namun menyenangkan.
Kelapa menjadi bagian tak terpisahkan dari Pulau Wawonii. Dalam bahasa Kulisusu, bahasa Suku Wawonii, wawo berarti di atas, sedangkan nii berarti kelapa (Cocos nucifera). Masyarakat Wawonii memang hidup dari ribuan batang pohon kelapa. Pohon-pohon kelapa dan tanaman lainnya ditanam oleh peladang dengan doa.
Seperti Anwar (43) yang membisikkan doa ke setiap bibit pohon sebelum ditanam. Kira-kira bunyinya seperti ini, “tumbuhlah dan berilah kehidupan untuk kami”. Tradisi itu dikenal dengan nama ashala.
“Kalau dirawat dengan baik, pohon juga memberikan dan menjaga hidup saya dan anak cucu saya,” ungkap Anwar.
Di separuh perjalanan, kami mampir ke gubuk Sanudin yang berdiri di tengah kebunnya. Gubuk itu menjadi rumah keduannya di saat lelah seusai menggarap kebun.
Air kelapa dari buah yang dipetik langsung dari pohon menghapus dahaga di separuh perjalanan. Air kelapanya terasa manis dan sedikit bersoda. Lalu Mando dengan parangnya membuat sendok dari kulit kelapa untuk menikmati daging kelapa muda yang lembut. Nikmat!
Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Tak lama berjalan, kami tiba di salah satu sumber mata air Sungai Roko-roko. Mata air itu menjadi sumber air bersih bagi warga Desa Dompo-dompo. Air disalurkan melalui pipa dari sumber mata air menuju desa yang berada di bawah. Air yang keluar dari balik pohon besar itu sangat deras. Airnya bening. Terlihat jelas dari jalan setapak di pinggir aliran sungai.
Sumber mata air yang mengalir deras ke sungai Roko-roko di Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, Minggu (14/6/2026).
Warga menyusuri hulu Sungai Roko-roko menuju sumber mata air banda yang berada di dalam gua karst di Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, Minggu (14/6/2026).
Pipa yang dulunya mengalirkan air bersih dari mata air banda yang kini sudah tidak terpakai di Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, Minggu (14/6/2026).
Warna kecoklatan di dasar mulut gua karst yang menjadi lokasi mata air banda di aliran Sungai Roko-roko.
Sumber mata air Banda yang berada di dalam gua karst
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju sumber air banda yang lebih besar lagi. Jarak mata air banda sekitar 3 kilometer dari desa. Mata air banda berada di dalam goa karst. Sebelum tiba di mulut goa, kami harus menyusuri aliran Sungai Roko-roko yang menyempit menyerupai parit. Batu-batu karstnya pun cukup tajam. Salah langkah dapat membuat luka pada telapak kaki.
Mata air banda telah lama tidak dimanfaatkan warga setempat karena berlumpur. Warga pun enggan mengkonsumsi air dari banda. Dinding goa karst berwarna kuning kecoklatan karena endapan lumpur. Mando memperlihatkan lumpur yang diambil dari dasar.
“Kami warga di sini sudah tidak mau pakai air ini lagi, pipanya juga sudah tidak mengalirkan air. Kami sekarang menadah air hujan atau mengambil air di Sungai Roko-roko,” ungkap Sanudin.
Mata air banda dulu merupakan sumber air bersih untuk 2.214 jiwa yang hidup di lima desa di Kecamatan Wawonii Tenggara. Lima desa itu, Desa Roko-roko, Dompo-dompo, Sukarela Jaya, Musollo, dan Desa Teporoko.
Pakar lingkungan dari Universitas Halu Oleo Prof. La Ode Aslan mengatakan, kondisi di Wawonii merupakan gambaran nasib pulau-pulau kecil di Indonesia saat ini.
Ketua Lembaga Adat Wawonii Husain Mahalik menjelaskan, orang Wawonii memiliki prinsip hidup yang dikenal dengan sebutan kai tora inia kato tora yang artinya di tanah inilah kita hidup. “Wawonii diberkahi Tuhan dengan berbagai potensi. Tanah subur, ditanam apapun tumbuh, di bawah tanahnya juga kaya sumber daya. Jadi tugas semua orang adalah menjaga dan merawatnya,” ungkap Husain.






Komentar (0)