Friendship Shelf Theory menjadi salah satu konsep yang belakangan ramai diperbincangkan karena menawarkan cara baru dalam memahami hubungan pertemanan. Konsep ini mengingatkan bahwa tidak semua teman memiliki peran yang sama dalam hidup kita.
Meski begitu, banyak orang masih merasa bersalah ketika hubungan pertemanan berubah atau menjadi lebih renggang, seolah semua teman harus selalu dipertahankan dengan kadar kedekatan yang sama. Konsep ini semakin menarik perhatian karena dinilai mampu membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat tanpa harus memaksakan semua orang menjadi sahabat dekat.
Melansir dari Shelf, berikut penjelasan mengenai Friendship Shelf Theory, mulai dari pengertian, pembagian kategori teman, hingga manfaat dan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Friendship Shelf Theory?Pengertian Friendship Shelf Theory/Foto: Magnific.com/Freepik
Konsep Friendship Shelf Theory mengibaratkan hubungan pertemanan seperti rak penyimpanan. Sama seperti kita menaruh barang sesuai tingkat kepentingannya, setiap teman juga memiliki "rak" masing-masing dalam kehidupan.
Posisi tersebut bukan berarti menunjukkan siapa yang lebih baik atau lebih buruk, melainkan menggambarkan seberapa besar peran mereka dalam keseharian kita. Alih-alih memaksa semua orang menjadi sahabat dekat, teori ini mengajak kita menerima bahwa setiap hubungan memiliki fungsi yang berbeda.
Ada teman yang menjadi tempat berbagi cerita terdalam, ada teman yang menyenangkan untuk melakukan hobi bersama, dan ada pula yang cukup menjadi kenalan baik tanpa harus selalu berkomunikasi setiap hari.
Menurut Marisa G. Franco, psikolog sekaligus penulis Platonic: How the Science of Attachment Can Help You Make—and Keep—Friends, pendekatan ini memberikan banyak manfaat karena membantu seseorang memahami apa yang benar-benar dihargai dalam sebuah pertemanan.






Komentar (0)