ADA yang bilang, pada mulanya korupsi bukanlah perkara uang. Ia hanya soal niat yang sedikit bergeser. Mula-mula bergeser sejengkal, lalu sehasta, kemudian satu kabupaten. Setelah itu, orang lupa bahwa yang bergeser bukan sekadar niat, melainkan juga akal sehat.
Rasa-rasanya tepat perkataan itu. Barangkali itulah sebabnya asal usul korupsi selalu sukar ditemukan. Ia tidak lahir dari brankas. Ia juga bukan anak kandung koper berisi uang ataupun rekening yang tiba-tiba menggelembung. Korupsi lahir jauh sebelum uang berpindah tangan. Ia lahir ketika seseorang merasa jabatan ialah milik pribadi, bukan titipan publik.
Baca Juga :
Gubernur Jateng Siap Tunjuk Plt Bupati SukoharjoOrang sering mengira korupsi itu pencurian. Dugaan itu tidak salah, tetapi kurang lengkap. Pencuri biasa masih bekerja malam-malam karena malu ketahuan. Koruptor bekerja siang bolong, lengkap dengan konferensi pers, sambutan, doa pembuka, tepuk tangan, dan spanduk bertuliskan 'Integritas'. Yang dicuri bukan hanya uang, melainkan juga rasa percaya.
Di situlah paradoks pertama korupsi. Ia paling subur justru di tanah yang paling ramai ditanami slogan antikorupsi. Kita baru saja menyaksikan sebuah ironi yang terlalu mahal untuk disebut kebetulan. Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, terjaring oleh operasi tangkap tangan KPK.
Dugaan perkara yang disangkakan bukan main-main, yakni pemerasan terhadap perangkat daerah di lingkungan pemerintahannya. Dari operasi itu disita logam mulia serta uang tunai dalam rupiah dan mata uang asing bernilai miliaran rupiah.
Yang membuat orang mengelus dada bukan semata-mata nilai uangnya. Yang lebih mahal ialah harga sebuah kata. Sepanjang 2024 hingga 2025, sang bupati berkali-kali mempromosikan pencanangan zona integritas antikorupsi. Rupanya integritas memang mudah dicanangkan, tetapi sulit dijalankan. Barangkali karena spanduk lebih ringan daripada hati nurani. Mendirikan baliho lebih gampang daripada mendirikan karakter.
Kita hidup di negeri yang rajin mencanangkan. Hampir setiap masalah diselesaikan dengan pencanangan. Ada pencanangan disiplin, pencanangan pelayanan prima, pencanangan reformasi birokrasi, pencanangan integritas. Setelah itu, tinggal menunggu pencanangan berikutnya. Negeri ini seolah percaya bahwa kata-kata mempunyai kekuatan magis. Padahal, kata-kata hanya akan menjadi doa bila pemiliknya juga menjadi pelaksana.
Paradoks kedua korupsi ialah makin sering integritas dipidatokan, kadang-kadang makin jauh ia dipraktikkan. Integritas berubah menjadi dekorasi. Ia dipasang di dinding kantor, tetapi tidak diberi kursi di ruang pengambilan keputusan.
Korupsi memang makhluk yang aneh. Ia membenci kesederhanaan, tetapi gemar berpidato tentang pengabdian. Ia alergi pada kejujuran, tetapi senang memimpin apel pagi. Ia takut kepada hukum, tetapi akrab dengan kekuasaan. Ia mengutuk ketidakadilan, sambil diam-diam menciptakannya.
Ada pula paradoks yang lebih lucu, sekaligus lebih menyedihkan. Koruptor hampir selalu berbicara atas nama rakyat. Tidak ada yang mengaku korupsi demi dirinya sendiri. Semua demi pembangunan, demi pelayanan, demi kesejahteraan, demi organisasi, bahkan demi stabilitas. Rakyat menjadi kata yang paling sering dipinjam, tetapi paling jarang menerima hasilnya.
Mungkin karena itu, korupsi tidak pernah benar-benar mati. Ia pandai berganti pakaian. Dulu ia datang membawa amplop. Kini ia membawa proyek. Besok mungkin ia datang membawa aplikasi digital. Bentuknya berubah, wataknya tetap sama, yaitu mengambil yang bukan haknya sambil tersenyum seolah sedang berbuat kebajikan.
Asal usul korupsi akhirnya bukan terletak pada uang, melainkan pada pembenaran. Begitu orang berhasil membenarkan kesalahannya sendiri, saat itulah korupsi memperoleh akta kelahiran. Uang hanyalah akibat. Kekuasaan hanyalah kendaraan. Yang menjadi ibu kandungnya ialah kerakusan yang berhasil berdamai dengan hati nurani.
Karena itu, perang melawan korupsi tidak cukup dimulai dari operasi tangkap tangan. OTT penting sebagai penegakan hukum, tetapi ia bekerja setelah penyakit berkembang. Yang jauh lebih penting ialah membangun manusia yang merasa malu sebelum melanggar, bukan takut setelah tertangkap.
Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.
Kalau tidak, kita akan terus menyaksikan sandiwara yang sama. Hari ini mencanangkan integritas, besok ditangkap karena mengkhianatinya. Hari ini mengajak bawahan hidup bersih, esok justru diduga memeras bawahannya sendiri. Hari ini berbicara tentang teladan, besok menjadi contoh yang ingin dilupakan.
Seperti kata seorang pendidik, Wes Fesler, "Hypocrisy is the audacity to preach integrity from a den of corruption." Kemunafikan ialah keberanian yang kelewat batas untuk mengkhotbahkan integritas dari sarang korupsi.
Begitulah korupsi. Ia tidak datang mengetuk pintu. Ia masuk lewat celah kecil bernama kompromi. Sesudah diterima sebagai tamu, ia segera mengaku sebagai pemilik rumah.





Komentar (0)