JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana di halaman sekolah pada Senin (13/7/2026) pagi tampak sedikit berbeda dari biasanya.
Di tengah antrean kendaraan dan langkah kaki para siswa yang memasuki gerbang sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru, banyak sosok ayah terlihat menggandeng tangan anaknya.
Di Jakarta, Tangerang Selatan, hingga Bandar Lampung, hingga sejumlah daerah lain, para ayah menyempatkan diri mengantar anak ke sekolah sebelum berangkat bekerja.
Ada yang datang dengan mengenakan seragam dinas, ada pula yang rela mengambil cuti atau izin bekerja setengah hari demi mengantar sang buah hati di hari pertama masuk sekolah.
"Kebetulan ini MPLS anak pertama saya. Selama tidak mengganggu pekerjaan, Alhamdulillah saya diizinkan," kata Fathoni, salah seorang orang tua yang mengantar anaknya sekolah di Surabaya.
Baca juga: Hari Pertama Sekolah Jadi Momen Ayah Menanamkan Nilai Kehidupan pada Anak
Momen kedekatan ayah dan anak itu pun cepat memenuhi media sosial.
Unggahan di Instagram, Facebook, TikTok, hingga status WhatsApp dipenuhi potret ayah yang berpose di depan rumah, siap mengantar sekolah, atau berjalan memasuki gerbang.
Kurangi FatherlessMengulas ke belakang, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah digagas oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN.
Pemberitaan Kompas.com menyebutkan, gerakan pertama kali diterapkan secara nasional pada Juli 2025.
Menteri Kedukbangga/BKKBN, Wihaji, sempat mengatakan, gerakan ini bertujuan mengurangi fenomena fatherless atau hilangnya peran ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.
Tercatat, ada sekitar 20,9 persen remaja kehilangan sosok ayah.
"Harapannya, mengurangi fatherless itu, bahwa kehadiran orangtua khususnya ayah dalam teori leadership itu penting, karena dapat membentuk karakter anak," ujar Menteri Kedukbangga/BKKBN, Wihaji pada 2025.
Baca juga: Kemendikdasmen di MPLS Sumbawa, Tekankan Sekolah Bebas Perpeloncoan
Senada, Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai, gerakan ini berkaitan dengan fenomena fatherless dalam konsep yang lebih luas.
Artinya, seorang anak mengalami fenomena ini bukan karena tumbuh tanpa ayah, tetapi karena ayah bercerai, ayah bekerja jauh, atau ayah tinggal serumah tapi minim interaksi.
"Apakah berkaitan dengan fenomena fatherless? Jawabannya menurut saya iya. Kategori yang terakhir, yang ayah tinggal serumah tapi minim interaksi itu sering disebut sebagai psychological father absence," kata Rakhmat kepada Kompas.com, Senin (13/7/2026).






Komentar (0)