Seperempat Mobil yang Terjual di Indonesia Selama 2026 adalah EV

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Permintaan kendaraan elektrifikasi (xEV) yang meliputi listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) atau mobil listrik murni, juga berjenis hibrida seperti hybrid electric vehicle (HEV) atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) di Indonesia secara tren terus mengalami peningkatan.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Putu Juli Ardika mengatakan hal tersebut tak terlepas dari program bantuan pemerintah berupa insentif, untuk akses kepemilikan kendaraan elektrifikasi yang lebih mudah.

"Ada yang namanya program low carbon emission, diperluas di mana BEV dan HEV semua mendapatkan bea masuk barang mewah diturunkan. BEV diberikan bea masuk barang mewah nol persen, hybrid PHEV sekitar 4-9 persen. Kendaraan biasa itu yang tinggi, ini kita lihat sangat mendukung pengembangan BEV di Indonesia," buka Putu saat konferensi pers GIIAS 2026 di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Putu menambahkan, hasil tersebut sangat terlihat sejak enam tahun terakhir. Dimulai dari 2020 di mana pangsa pasar xEV belum mampu mencapai satu persen, namun pada tahun-tahun berikutnya angkanya kian membesar.

"Kalau kita lihat tahun 2020-an itu belum sampai 1 persen, 2022 sudah 1,2 persen, 2024 itu di 12 persen, dan sekarang 2026 ini sampai Juni sudah sampai 26 persen. Market share 26 persen, yang termasuk EV itu adalah BEV, PHEV, dan HEV. Perkembangannya cukup bagus," paparnya.

Coba menilik data Gaikindo terbaru, penjualan BEV selama Juni kemarin totalnya mencapai 12.653 unit, melonjak 36,2 persen dibanding Mei yang catatkan 9.290 unit. Kategori ini juga yang paling banyak di antara jenis elektrifikasi lainnya.

Pada bulan yang sama, segmen PHEV tersalurkan dari pabrik ke diler sebanyak 2.402 unit dan HEV totalnya 8.215 unit. Adapun distribusi BEV Januari-Juni telah mencapai 69.739 unit, dengan pangsa pasar sekitar 16 persen dari total penjualan kendaraan nasional yang angkanya 436.564 unit.

Optimistis segmen elektrifikasi kian tumbuh tanpa insentif

Selain itu, Putu turut menyinggung kepastian insentif khusus untuk kendaraan dengan emisi rendah. Menurutnya persaingan yang ada di pasar saat ini sudah cukup kompetitif dengan sendirinya, sehingga dinilai telah mampu menjangkau daya beli masyarakat luas.

"Dan kalau kita bisa sarankan, lebih bagus abaikan (rencana insentif) saja dulu. Nanti kalau ada ya kita bersyukur, tapi sekarang karena kalau kita lihat harga kendaraan ini sangat bersaing keras, apalagi dalam kondisi sekarang, sangat bersaing," jelasnya.

Putu bilang insentif bukan lagi menjadi faktor utama yang menentukan keputusan pembelian. Terlebih, stimulus dewasa ini dikhususkan untuk kategori kendaraan Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), termasuk kendaraan listrik murni (BEV).

"Apalagi insentif hanya untuk EV bukan untuk kendaraan lain, sehingga karena sangat bersaing harganya sudah affordable, jangan menunggu itu, langsung saja dibeli. Enggak akan membedakan banyak hal, produsen sekarang sudah memberikan diskon, banyak sekali fasilitas-fasilitas dan diskon," tandasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
AS Balas Gempur 140 Target Militer Buntut Iran Serang Kapal Kontainer di Selat Hormuz | SAPA SIANG
• 20 jam lalu
0
thumb
Tak Sekadar Membatik, Perajin Yogyakarta Dibekali Sertifikasi untuk Tingkatkan Kepercayaan Pasar
• 16 jam lalu
0
thumb
Menhan Sjafrie Bertemu Pejabat Satgas PKH Setelah Febrie Adriansyah Jadi Tersangka
• 9 jam lalu
0
thumb
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
• 5 jam lalu
0
thumb
Kronologi Kepala SPPG di Bandung Ditemukan Tewas Gantung Diri di Kawasan Mal Bandung, Sempat Minta Maaf ke Keluarga Lewat Surat!
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.