Roma: Italia menghadapi gelombang panas ketiga pada musim panas tahun ini, dengan otoritas kesehatan meningkatkan status kewaspadaan di sejumlah kota akibat suhu ekstrem yang terus melanda berbagai wilayah negara tersebut.
Menurut buletin terbaru Kementerian Kesehatan Italia yang dikutip Anadolu Agency, Selasa, 14 Juli 2026, status peringatan kesehatan tertinggi atau peringatan merah diberlakukan di Florence dan Perugia hingga Rabu besok.
Status tersebut menunjukkan bahwa suhu panas ekstrem berpotensi membahayakan kesehatan seluruh populasi, tidak hanya kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit tertentu.
Mulai Selasa ini, lima kota Italia yaitu Bologna, Brescia, Frosinone, Roma, dan Turin juga akan masuk ke dalam kategori peringatan merah. Selain itu, sembilan kota lainnya akan berada dalam status peringatan oranye pada Rabu.
Kota-kota tersebut meliputi Cagliari, Campobasso, Latina, Milan, Pescara, Rieti, Trieste, Verona, dan Viterbo.
Dalam sistem peringatan cuaca Italia, warna hijau menandakan tidak ada risiko, sementara kuning menunjukkan fase pra-peringatan.
Status oranye menandakan bahwa suhu dan kondisi cuaca dapat menimbulkan dampak kesehatan, terutama bagi kelompok rentan, sedangkan status merah berarti panas ekstrem berpotensi membahayakan seluruh masyarakat.
Di saat yang sama, petugas pemadam kebakaran juga masih berupaya mengendalikan sejumlah kebakaran hutan yang pecah pada Minggu di sekitar kota Palermo di bagian barat serta kota Catania dan Syracuse di bagian timur Pulau Sisilia.
Sebagai langkah antisipasi, sejumlah rumah yang berada di sekitar lokasi kebakaran di pinggiran Catania dan Syracuse telah dievakuasi.
Operasi pemadaman melibatkan ratusan petugas pemadam dan pekerja kehutanan yang dibantu kendaraan pemadam di darat serta pesawat dan helikopter pemadam dari udara.
Kebakaran lain juga dilaporkan terjadi pada Senin siang di kawasan hutan dan semak belukar di sekitar Solfatara, kawah purba yang berada di antara Kota Napoli dan distrik Pozzuoli.
Gelombang panas kali ini dipicu oleh antisiklon kuat dari Afrika yang membawa massa udara panas langsung ke kawasan Mediterania.
Fenomena tersebut, ditambah dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia, disebut berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa Selatan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejauh musim panas tahun ini, Italia telah mencatat sedikitnya tujuh kematian yang dikaitkan dengan suhu panas ekstrem yang berkepanjangan.
Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem di Italia Tewaskan Empat Orang, 17 Kota Siaga Merah





Komentar (0)