JAKARTA, KOMPAS – Perum Bulog mengoptimalkan pendistribusian beras via jalur udara di Papua dan jalur sungai di Kalimantan. Bulog juga menambah fasilitas pergudangan untuk memudahkan mobilisasi beras ke sejumlah daerah terpencil di Indonesia.
Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Analisis Harga Perum Bulog Muhammad Wawan Hidayanto, Senin (13/7/2026), mengatakan, Papua merupakan salah satu daerah prioritas penyaluran beras Bulog. Penyaluran itu berbentuk bantuan pangan, stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), dan tunjangan beras bagi aparatur sipil negara, TNI, dan Polri.
Namun, pendistribusian beras di sejumlah daerah di Papua kerap kali tidak tepat waktu akibat terkendala transportasi dan kapasitas angkut. Di Wamena, Papua Pegunungan, misalnya, pasokan berasnya berasal dari gudang Bulog di Jayapura dan Timika.
Selama ini, lanjut Wawan, rute Jayapura-Wamena dilayani dua pesawat, sedangkan Timika-Wamena satu pesawat. Dari frekuensi penerbangan pesawat-pesawat itu, total kapasitas angkut beras dalam sepekan hanya 510 ton.
Kini, penerbangan Jayapura-Wamena dilayani tiga pesawat, sedangkan Timika-Wamena dua pesawat. Jumlah beras yang diangkut juga bertambah 55,9 persen menjadi 795 ton per minggu.
Oleh karena itu, Bulog berupaya berkoordinasi dengan pengelola bandara perihal penyediaan gudang transit untuk bongkar muat dan pengiriman beras. Bulog juga berkoordinasi dengan maskapai untuk menambah jumlah pesawat menuju Wamena.
“Kini, penerbangan Jayapura-Wamena dilayani tiga pesawat, sedangkan Timika-Wamena dua pesawat. Jumlah beras yang diangkut juga bertambah 55,9 persen menjadi 795 ton per minggu,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Wawan juga menuturkan, Bulog Cabang Samarinda bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat untuk mengoptimalkan pemanfaatan gudang afilial milik pemerintah daerah. Langkah itu guna memperkuat jaringan distribusi, meningkatkan pasokan pangan ke wilayah terpencil, dan menekan biaya logistik.
“Gudang afilial tersebut juga menjadi titik pasokan bahan pangan ke Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, melalui jalur sungai,” tuturnya.
Selama ini, Sungai Mahakam menjadi tumpuan utama mobilitas barang dan orang di Mahakam Ulu, terutama penduduk Kecamatan Long Apari. Ini mengingat sebagian besar infrastruktur jalur darat dari pusat pemerintahan Mahakam Ulu menuju Long Apari masih belum memadai.
Sekitar 100 kilometer ruas jalan itu—dari Ujoh Bilang menuju Long Lunuk, Keamatan Long Pahangai—hanya bisa dilalui mobil bergardan ganda. Waktu tempuhnya sekitar 7-9 jam. Total kapasitas barang yang bisa diangkut hanya 4 ton dengan biaya sekitar Rp 5 juta-Rp 6,5 juta.
Dari Long Lunuk, barang muatan itu harus dibawa melalui jalur sungai menggunakan ketinting (perahu kayu kecil) dengan waktu tempuh paling cepat tiga jam. Bahkan, setiap musim kemarau, Sungai Mahakam surut. Kondisi itu membuat harga pangan melonjak tinggi (Kompas. 26/7/2025).
Serial Artikel
Beras 25 Kg Capai Rp 1,2 Juta di Pedalaman Mahakam Ulu, Warga Menjerit
Sungai Mahakam surut di Kabupaten Mahakam Ulu, Kaltim, menyebabkan tersendatnya distribusi sembako. Harga beras 25 kg capai Rp 1,2 juta.
Dalam rapat tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan harga rerata nasional berbagai jenis beras masih stabil tinggi. Dalam sepekan, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras juga bertambah.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, harga rerata nasional berbagai jenis beras di tingkat konsumen per pekan kedua Juli 2026 senilai Rp 15.499 per kilogram (kg). Harga tersebut naik 0,36 persen dibandingkan dengan Juni 2027.
Dari sisi indeks perkembangan harga (IPH), perubahan IPH beras tergolong rendah. Namun, dari sisi harga beras, levelnya tergolong tinggi lantaran masih di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
“Level harga beras yang tinggi inilah yang harus dibayar masyarakat, bukan perubahan IPH-nya,” katanya.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan, harga rerata nasional beras medium per 10 Juli 2026 senilai Rp 13.836 per kg. Harga tersebut naik sebesar 0,42 persen secara bulanan dan berada di atas rerata HET beras medium di tingkat konsumen Rp 13.500 per kg.
Dalam periode perbandingan yang sama, harga rerata nasional beras premium tembus Rp 15.515 per kg atau naik 0,32 persen. Harga tersebut juga masih di atas rerata HET beras premium di tingkat konsumen Rp 14.900 per kg.
Amalia juga menyatakan, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras pada pekan kedua Juli 2026 sebanyak 128 daerah. Jumlah tersebut bertambah dari pekan pertama Juli 2026 yang sebanyak 113 daerah.
Sejumlah daerah yang mengalami perubahan IPH tertinggi adalah Kota Langsa, Aceh, dan Kabupaten Sarmi, Papua, dengan IPH masing-masing sebesar 8,64 persen dan 5,54 persen. Selain itu, ada juga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dan Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh, dengan IPH masing-masing sebesar 5,5 persen dan 5,01 persen.
BPS juga mencatat, sepanjang Januari-Juni 2026, beras mengalami inflasi tahunan secara beruntun. Tingkat inflasi tahunan beras pada Januari, Februari, Maret, April, Mei, dan Juni 2026 masing-masing sebesar 3,44 persen, 3,61 persen, 3,71 persen, 4,36 persen, 4,55 persen, dan 3,98 persen.






Komentar (0)