Ketika Ankara Menjadi Panggung Ujian Terakhir bagi NATO

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Ada yang berbeda dari KTT NATO tahun ini. Tiga puluh dua pemimpin negara anggota memang hadir seperti biasa di Ankara pada 7-8 Juli 2026. Agenda resminya terlihat seperti biasa pula: peningkatan belanja pertahanan, penguatan industri militer, dan dukungan jangka panjang untuk Ukraina. Tapi di bawah permukaan semua agenda itu, ada ketegangan yang sudah lama menumpuk dan kali ini sulit lagi disembunyikan.

KTT ini, menurut banyak pengamat, tidak berbeda jauh dari sebuah sidang darurat. Semua pihak datang dengan kekhawatiran yang sama: apakah NATO masih bisa bertahan dalam bentuknya yang sekarang?

Ketika Tuan Rumah Sendiri Bukan Tamu yang Mudah

Turki terpilih sebagai tuan rumah KTT kali ini bukan tanpa alasan. Dengan militer terbesar kedua di NATO dan posisi strategis di sayap tenggara aliansi, Ankara memiliki modal untuk memainkan peran mediator antara Trump dan sekutu-sekutu Eropa yang mulai gerah. Erdogan memang dikenal bisa berbicara dalam bahasa yang dipahami Trump.

Tapi justru Turki sendiri menjadi salah satu sorotan sebelum KTT dimulai. Menjelang pertemuan, lebih dari 225 orang ditangkap di Ankara dalam beberapa hari, mayoritas aktivis hak asasi manusia, pegiat lingkungan, dan jurnalis. Larangan unjuk rasa diberlakukan selama dua pekan penuh. Organisasi Human Rights Watch mengkritik keras langkah ini sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar aliansi yang sedang dirayakan.

Trump, Eropa, dan Rekening yang Belum Dibayar

Sumber ketegangan terbesar dalam KTT ini datang dari arah yang sudah lama bisa ditebak: Donald Trump. AS di bawah Trump sudah lebih dulu menarik 5.000 tentara dari Jerman dan mengancam akan melakukan hal yang sama di Italia dan Spanyol. Penarikan ini bukan gertak sambal, melainkan respons nyata atas keengganan negara-negara Eropa membantu Amerika Serikat selama konflik Iran.

Trump sudah menyampaikan kekecewaannya sejak Mei lalu: AS membantu Eropa menghadapi Rusia di Ukraina, tapi ketika AS membutuhkan dukungan di Selat Hormuz, Eropa memilih untuk tidak terlibat. Bagi Trump, ini bukan soal geopolitik, ini soal tagihan yang belum dibayar.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menjuluki NATO sebagai "harimau kertas", sebuah istilah yang bukan sekadar retorika. Di balik julukan itu ada tuntutan konkret: negara-negara anggota harus mengalokasikan minimal 5 persen dari PDB masing-masing untuk belanja pertahanan. Komitmen tahun lalu di Den Haag sudah menghasilkan peningkatan belanja pertahanan sebesar 139 miliar dolar AS dari negara-negara Eropa dan Kanada, tapi bagi Trump angka itu masih belum cukup.

Eropa Mulai Belajar Berjalan Sendiri

Di tengah semua tekanan itu, ada pergeseran yang pelan tapi signifikan terjadi di sisi Eropa. Sejumlah negara mulai mengambil langkah membangun kapasitas pertahanan yang tidak sepenuhnya bergantung pada AS. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebutnya secara terbuka sebagai transformasi menuju "NATO 3.0", sebuah aliansi di mana Eropa harus lebih otonom dan mampu mengambil keputusan sendiri dalam masalah keamanan kawasannya.

Ini bukan hal yang pernah terbayangkan dua dekade lalu. Eropa selama bertahun-tahun memilih bergantung pada payung keamanan AS karena lebih murah dan lebih mudah. Tapi ketika payung itu mulai terasa tidak pasti, negara-negara Eropa tidak punya pilihan selain mulai mempersiapkan diri untuk berdiri lebih tegak.

KTT Ankara hari ini mungkin akan menghasilkan deklarasi bersama yang terasa seperti biasa, penuh komitmen dan kata-kata soal persatuan. Tapi yang benar-benar berubah tidak akan tertulis di deklarasi mana pun. Pergeseran itu sedang terjadi di balik setiap pembicaraan bilateral di koridor Ankara, dan hasilnya baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bangun 29 Bendungan dalam Satu Dekade, Waskita Karya Perkuat Ekosistem Pertumbuhan Ekonomi Nasional
• 22 jam lalu
0
thumb
Mentrans Bidik Jepang Jadi Pasar Ekspor Baru Mangga Jawa Timur
• 3 jam lalu
0
thumb
Link Live Streaming UFC 329: Tarung Siang Ini, Ada Duel Conor McGregor Vs Max Holloway
• 11 jam lalu
0
thumb
Prabowo Turun Tangan, Minta Polri-Kejaksaan Solid Usut Kasus Korupsi Febrie Adriansyah
• 15 jam lalu
0
thumb
Prosesi Pemakaman Ali Khamenei Usai, Begini Sumpah Mojtaba untuk Membalas Kematian Ayahnya
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.