REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan akan membalas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Hal itu disampaikan Motjaba setelah rampungmya rangkaian prosesi pemakaman Ali Khamenei.
"Kami berjanji untuk membalas darah pemimimpin yang gugur dan semua martir dari dua perang ini dari para pembunuh yang kriminal dan tercela," kata Mojtaba dalam sebuah pernyataan tertulis yang dibacakan televisi pemerintah Iran pada Sabtu (11/7/2026), dikutip laman Al Arabiya.
Baca Juga
Menlu Sugiono Klaim RI yang Perdana Beri Penghormatan Makam Ayatullah Ali Khamenei
Quo Vadis Timteng Pasca-Khamenei: Nasib Poros Perlawanan dan Rekonfigurasi Tatanan Dunia
Ini Penampakan Makam Ayatollah Ali Khamenei
Mojtaba menegaskan, pembalasan atas kematian Ayatollah Ali Khamenei adalah tuntutan bangsa dan pasti harus terjadi. "Terlepas apakah kita ada di sana atau tidak, ini akan tercapai, dan segera setiap orang merdeka di seluruh dunia akan memenuhi sebagian dari misi ilahi ini," ujarnya.
Pernyataan tertulis tersebut merupakan pesan publik pertama Mojtaba setelah rampungnya rangkaian prosesi pemakaman ayahnya. Selama rangkaian tersebut, Mojtaba tak menampakkan diri di muka publik.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ayatollah Ali Khamenei dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza di Mashdad. Rangkaian prosesi pemakamannya berlangsung sekitar sepekan, yakni pada 4-9 Juli 2026. Tokoh yang memimpin Iran selama 37 tahun tersebut terbunuh akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Putri dan menantu Khamenei turut kehilangan nyawa mereka dalam serangan itu.
Setelah serangan itu, Iran menyerang fasilitas-fasilitas militer milik AS yang terdapat di sejumlah negara Teluk. Iran pun meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Salah satu dampak global akibat perang tersebut adalah meroketnya harga minyak dunia. Hal itu karena Iran memperketat akses lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Pada 17 Juni 2026 lalu, Iran dan AS akhirnya menyepakati Memorandum Islamabad. Memorandum tersebut menetapkan gencatan senjata baru selama 60 hari demi membuka kembali Selat Hormuz secara total. Penghentian perang atau pertempuran mencakup wilayah Lebanon.
Namun pada 27 Juni 2026, militer AS meluncurkan serangan udara ke infrastruktur pengawasan maritim, sistem komunikasi, dan situs pertahanan udara di pesisir pantai Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan itu terpaksa dilakukan karena Iran terlebih dahulu menyerang kapal kargo di Selat Hormuz, sebuah tindakan yang dinilai melanggar komitmen Memorandum Islamabad.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan melancarkan serangan udara ke pangkalan atau fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sejumlah negara, termasuk Pakistan selaku mediator, telah menyerukan agar AS dan Iran kembali mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Komentar (0)