Matamata.com - Pemerintah China menyatakan keterkejutannya atas keputusan Pemerintah Israel yang memberikan kewenangan penuh kepada militernya untuk menargetkan pejabat Iran tanpa perlu persetujuan pimpinan politik. Beijing menegaskan penolakan keras terhadap penggunaan kekuatan militer dalam hubungan internasional.
"China terkejut oleh pernyataan tersebut," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (19/3/2026).
Lin Jian menekankan bahwa Beijing menentang keras pembunuhan terhadap pemimpin negara serta serangan terhadap target sipil. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan langkah yang tidak dapat diterima dan mencederai norma internasional.
"Kami mendesak semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut," tambahnya.
Sebelumnya pada Rabu (18/3), Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengumumkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kini telah diberi kewenangan mandiri untuk membunuh pejabat tinggi Iran yang menjadi target. Dengan kebijakan ini, IDF tidak perlu lagi memeroleh persetujuan bertahap dari pimpinan negara sebelum melakukan eksekusi.
Ketegangan ini memuncak setelah Katz mengonfirmasi pada Selasa lalu bahwa Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, tewas dalam operasi militer Israel di Teheran. Operasi tersebut juga menewaskan Gholamreza Soleimani, komandan pasukan paramiliter Basij.
Pemerintah Iran telah memberikan pernyataan resmi yang mengonfirmasi bahwa kedua pejabat tinggi tersebut telah gugur.
Situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah pernyataan Katz pada 4 Maret lalu yang menegaskan bahwa setiap pemimpin baru Iran akan menjadi "target eliminasi tanpa syarat" bagi militer Israel. (Antara)




