Jelang Idul Fitri 2026, industri musik dangdut Indonesia tengah disorot. Hak ekonomi para musisi belum menemui titik terang.
Lembaga Manajemen Kolektif Anugrah Royalti Dangdut Indonesia (LMK ARDI) menyebut royalti periode Januari hingga Desember 2025 yang semestinya lunas pada awal 2026, hingga saat ini belum juga cair.
Kondisi ini menimbulkan kekecewaan bagi sebagian besar musisi dangdut, yang bergantung pada dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan Lebaran.
Ditambah, ada temuan yang menyebut berkurangnya nilai royalti yang dinilai tidak masuk akal.
Jika dana yang terkumpul biasa mencapai angka Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar, kini Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) hanya menetapkan nilai sebesar Rp 25.063.346 untuk seluruh anggota ARDI.
Penurunan ini didasari klaim dari LMKN yang menyebutkan bahwa penggunaan lagu dangdut hanya sebesar satu persen dari total penggunaan lagu secara nasional.
Ketua Umum ARDI, Ikke Nurjanah, meluapkan kekecewaannya.
"Ini memarjinalkan dangdut. Kita semua tahu bahwa ada TV yang sepanjang hari programnya dangdut, bahkan menjadi viral," ujar Ikke lewat jumpa pers virtual, Selasa (17/3).
Ikke menilai angka satu persen sangat berbanding terbalik dengan fakta popularitas dangdut di tengah masyarakat.
Ikke pun mendesak keterbukaan informasi terkait metode pengumpulan data oleh LMKN.
"Kami butuh transparansi sumber data yang valid. Ketika menyatakan nilai segitu adalah hak yang layak diterima anggota ARDI," ucap Ikke.
Rhoma Irama Sumbang Rp 100 JutaDi tengah kisruh ini, musisi senior Rhoma Irama menunjukkan solidaritas terhadap rekan pedangdut lainnya. Prihatin dengan nasib anggota LMK ARDI yang royaltinya macet, Rhoma menyumbangkan uang sebesar Rp 100 juta untuk dibagikan kepada mereka yang terdampak.
"Saya bisa merasakan gitu teman-teman. Saya ikut menyumbangkan uang Rp 100 juta untuk bisa dibagikanlah," kata Rhoma Irama.
Rhoma menjelaskan, langkah ini diambil semata karena empati terhadap para seniman yang kini kesulitan, terutama di tengah kebijakan tata kelola baru yang dianggap merugikan secara sistemik.
"Apa, ya, obsesi saya sebagai bukti bahwa saya berempati karena ya kita semua kena ini," ungkap Rhoma.
Bantuan finansial ini diharapkan dapat meringankan beban para musisi yang ingin mudik dan merayakan Lebaran bersama keluarga.
Di sisi lain, Rhoma dan Ikke menempuh jalur formal untuk memperjuangkan hak para seniman. Mereka bertemu langsung dengan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dan menjalin komunikasi dengan kementerian terkait lainnya.
"Cobalah apa pun itu, selamatkanlah anak-anak ini karena Lebaran mau mudik," tegas Rhoma.
Meski mediasi telah dilakukan sejak September 2025, hingga kini belum ada titik temu dengan LMKN. Audiensi terbuka kepada Menteri Hukum pun belum membuahkan respons resmi.
Rhoma Irama mengimbau seluruh musisi dangdut tetap tenang, tetap konsisten dalam berjuang.
Hingga berita ini diturunkan, kumparan sempat menghubungi Humas LMKN, tetapi belum ada respons.





