Fed Tahan Suku Bunga, Saham AS Langsung Anjlok

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street mengalami kerugian besar pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena investor mencerna keputusan kebijakan terbaru Federal Reserve dan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan.

Mengutip Xinhua, Kamis, 19 Maret 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,63 persen menjadi 46.225,15, mencapai titik terendah baru tahun ini. Indeks S&P 500 merosot 1,36 persen menjadi 6.624,7. Indeks Nasdaq Composite turun 1,46 persen menjadi 22.152,42.

Kesebelas sektor utama S&P 500 semuanya berakhir di zona merah. Sektor barang konsumsi pokok dan barang konsumsi non-pokok memimpin penurunan, masing-masing kehilangan 2,44 persen dan 2,32 persen. Sektor energi mencatat penurunan terkecil, hanya turun 0,16 persen.

Aksi jual besar-besaran di pasar saham terjadi setelah keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran target 3,50 persen hingga 3,75 persen.

"Implikasi perkembangan di Timur Tengah terhadap perekonomian AS masih belum pasti. Komite memperhatikan risiko bagi kedua belah pihak terkait mandat ganda yang diembannya," kata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dalam sebuah pernyataan.
  Baca juga: Redam Gejolak Inflasi Imbas Perang AS-Iran, Fed Ogah Ubah Suku Bunga

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
  Fed masih melihat potensi penurunan suku bunga
Terlepas dari nada hati-hati tersebut, Fed mengisyaratkan mereka masih memperkirakan akan ada satu kali penurunan suku bunga tahun ini. "Perkiraan kami adalah kita akan membuat kemajuan dalam hal inflasi, tidak sebanyak yang kita harapkan, tetapi akan ada kemajuan dalam hal inflasi," tutur Ketua Fed Jerome Powell dalam konferensi pers.

"Saya selalu harus menunjukkan itu adalah istilah tahun 1970-an, pada saat pengangguran mencapai angka dua digit dan inflasi sangat tinggi. Sebenarnya, tingkat pengangguran kita sangat mendekati angka normal jangka panjang, dan inflasi kita hanya satu poin persentase di atasnya," jelas Powell saat ditanya terkait stagflasi ekonomi AS.

Selain tantangan yang ada, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga produsen, ukuran biaya grosir, meningkat sebesar 0,7 persen setelah disesuaikan secara musiman pada Februari. Indeks inti, yang tidak termasuk biaya makanan dan energi yang fluktuatif, naik 0,5 persen secara bulanan (mtm).

"Kami pikir ada kemungkinan lebih besar guncangan energi saat ini akan merusak permintaan karena rumah tangga memiliki daya beli yang lebih rendah. Hal ini seharusnya mengurangi kemungkinan inflasi yang lebih luas dan lebih berkelanjutan," tulis analis di ING Bank pada hari Rabu.

Prospek ekonomi yang suram sangat membebani sebagian besar sektor, dengan ketujuh raksasa teknologi "Magnificent Seven" mengalami penurunan harga saham, dipimpin oleh penurunan 2,48 persen pada saham Amazon.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sejarah Baru! Film Sci-Fi Pelangi di Mars Resmi Tayang Serentak, Jadi Tonggak Inovasi Sinema untuk Anak Indonesia
• 22 jam lalumatamata.com
thumb
Terungkap Alasan Haru Denada Menyerahkan Ressa Rizky Rossano ke Kerabatnya
• 19 jam lalucumicumi.com
thumb
Pengguna Mobil Listrik Jangan Gagal Paham, Ganti Ban Tak Bisa Sembarangan
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Makna “Eid Mubarak”: Ucapan Idul Fitri yang Digunakan Umat Muslim di Seluruh Dunia
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Dipersiapkan Sejak Januari 2026, Pertamina Pastikan Pasokan BBM Aman Saat Mudik Lebaran
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.