The Fed Tahan Suku Bunga Acuan dalam FOMC Maret 2026

bisnis.com
13 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Rapat dewan gubernur Bank Sentral Amerika Serikat alias The Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan bulanan Maret 2026 dini hari tadi waktu Indonesia.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memberikan suara 11-1 untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal dalam kisaran 3,5% hingga 3,75%. Satu suara menolak berasal dari Gubernur Stephen Miran yang menyerukan penurunan 0,25 poin.

Rapat juga memberi sinyal suku bunga tinggi kemungkinan akan tetap dipertahankan namun membuka ruang untuk penurunan satu kali para tahun ini akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat perang di Timur Tengah.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (19/3/2026), Ketua The Fed Jerome Powell menekankan prasyarat utama agar suku bunga bisa turun adalah realisasi penurunan inflasi terutama barang yang telah naik tinggi akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

“Jika kami tidak melihat kemajuan itu [penurunan inflasi], maka kita tidak akan melihat penurunan suku bunga,” kata Powell.

Prasyarat ini sendiri kemungkinan sulit dicapai. Dalam perkiraan ekonomi yang dirilis bank sentral setelah pertemuan, para anggota dewan gubernur menghitung proyeksi inflasi 2026 naik menjadi 2,7% dari 2,4%. Demikian juga dengan inflasi inti, diperkirakan melonjak menjadi 2,7%.

Baca Juga

  • Jadwal Rapat FOMC The Fed 2026, Acuan Pasar Keuangan dan Arah Dolar AS
  • Rumah Tapak dan Penyewaan Mall jadi Penopang Utama Bisnis APLN pada 2025
  • Stabilkan Harga Minyak, Trump Tangguhkan Aturan Pengiriman AS untuk 60 Hari

Dalam pernyataan pasca-pertemuan, dewan gubernur menggarisbawahi ketidakpastian yang mereka hadapi dalam perekonomian akibat konflik di Timur Tengah, seperti yang juga disampaikan Powell dalam konferensi persnya.

“Terlalu dini untuk mengetahui cakupan dan durasi potensi dampaknya terhadap perekonomian, yang benar-benar ingin saya tekankan adalah bahwa tidak ada yang tahu,” ” kata Powell.

Ditanya tentang dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi, Powell mengakui bahwa bank sentral biasanya tidak menaikkan suku bunga ketika harga energi melonjak karena dampaknya terhadap inflasi bersifat sementara. Namun, pendekatan itu, katanya, selalu bergantung pada harapan publik yang terus mengharapkan inflasi akan stabil. 

Fed sendiri mematok inflasi 2% dalam arah kebijakannya. Ia juga mencatat bahwa inflasi di AS telah berada di atas target 2% Fed selama lima tahun.

Powell mengatakan komite tersebut kembali membahas kemungkinan bahwa langkah suku bunga Fed selanjutnya bisa berupa kenaikan, tetapi menambahkan sebagian besar peserta tidak melihat itu sebagai skenario utama mereka.

Keputusan ini menandai kali kedua berturut-turut para pejabat mempertahankan suku bunga, meskipun latar belakang ekonomi telah berubah secara signifikan sejak pertemuan terakhir mereka.

Pada pertemuan Januari lalu, para anggota dewan gubernur telah mengisyaratkan tingkat pengangguran sedang stabil sebagai dasar penurunan suku bunga. Namun beberapa peserta menyatakan niat untuk mempertahankan suku bunga untuk jangka waktu yang lebih lama guna memastikan penurunan inflasi.

Kemudian muncul laporan ketenagakerjaan Februari yang lemah yang menimbulkan keraguan baru tentang kestabilan pasar tenaga kerja. Serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari juga menyebabkan harga minyak global melonjak, mendorong meningkatnya inflasi dan melemahkan pertumbuhan lapangan kerja.

Dampaknya, para pejabat mengelemninasi pernyataan pada bulan Januari yang menggambarkan pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Sebagai gantinya, mereka mengatakan tingkat pengangguran sedikit berubah dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam proyeksi terbaru, para pejabat terus memperkirakan penurunan suku bunga seperempat poin pada tahun 2026 dan satu lagi pada tahun 2027. Tidak ada pembuat kebijakan yang mengindikasikan preferensi untuk menaikkan suku bunga tahun ini.

Asumsi yang dipegang hingga akhir 2026 adalah ekonomi tumbuh menjadi 2,4% dari 2,3%. Sedangkan perkiraan pengangguran tetap tidak berubah pada 4,4% untuk akhir tahun 2026.

Keputusan ini membuat pasar saham tertekan. Indeks S&P 500 berada di zona merah setelah Powell berbicara, sementara imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS naik.

Tidak Mundur

Dalam kesempatan yang sama, Powell secara mengejutkan membuat pernyataan tegas tentang masa depannya di bank sentral. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa tidak berniat mengundurkan diri sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed sampai penyelidikan oleh Departemen Kehakiman terhadap proyek renovasi gedung benar-benar selesai.

Powell mengatakan jika penggantinya tidak ditetapkan Senat sebelum masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada bulan Mei mendatang, ia akan menjabat sebagai ketua sementara. Jabatan Powell sebagai anggota dewan gubernur baru berakhir pada awal 2028 setelah perpanjangan sedangkan periode keketuaan berakhir dua bulan ke depan. Keputusan ini membuat pencalonan ketua The Fed baru yang diusung Presiden Trump penuh ketidak pastian. 

Trump telah menominasikan mantan gubernur Fed, Kevin Warsh, untuk mengambil alih sebagai ketua. Tetapi seorang senator Republik memandang penyelidikan Departemen Kehakiman sebagai motivasi politik dan telah berjanji untuk memblokir pengesahan Warsh selama penyelidikan berlanjut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemudik melalui stasiun KA Daop 8 Surabaya capai 184 ribu jiwa
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
4 Prajurit TNI Terduga Penyiram Air Keras ke Aktivis KontraS Terancam 7 Tahun Penjara
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Kurir yang Jual Ganja via Instagram di Jakut Dapat Untung Rp 50.000
• 8 jam lalukompas.com
thumb
BGN Dorong Inovasi Menu MBG: Kualitas Bintang Lima dengan Harga Rp10 Ribu
• 2 jam lalumatamata.com
thumb
Warga Medan Wajib Tahu! Jadwal Imsak Hari Ini 19 Maret 2026 Jangan Sampai Kebablasan Sahur
• 17 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.