JAKARTA, DISWAY.ID - Modernisasi transportasi menjadi salah satu agenda penting dalam pembangunan perkotaan, termasuk di Kota Bekasi.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas layanan transportasi publik melalui integrasi moda, digitalisasi sistem, hingga pengembangan angkutan massal yang lebih modern.
Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul kekhawatiran dari para sopir angkutan kota (angkot) yang selama ini menggantungkan penghidupan dari sektor transportasi konvensional.
Perubahan sistem transportasi seringkali menimbulkan dampak sosial bagi para pengemudi angkot. Kehadiran transportasi berbasis aplikasi, rencana integrasi dengan moda massal, serta penataan ulang trayek membuat sebagian sopir merasa tersisih.
BACA JUGA:H-3 Lebaran 2026, Menhub Resmi Berlakukan One Way Nasional dari Cikampek-Semarang
BACA JUGA:Koalisi Masyarakat Sipil Nilai Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Cerminkan Kegagalan Komando
Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tidak hanya berorientasi pada modernisasi, tetapi juga tetap melindungi mata pencaharian para pengemudi angkot.
Melihat hal ini, Wakil Ketua II DPRD Kota Bekasi, Faisal, mengingatkan agar program modernisasi transportasi publik tetap memperhatikan keberadaan angkutan konvensional seperti angkot.
Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bekasi yang telah menghadirkan layanan transportasi massal Trans Bekasi Keren (Beken).
Menurutnya modernisasi transportasi tidak boleh mengabaikan para pengemudi angkot yang selama ini menggantungkan penghidupan dari sektor tersebut.
BACA JUGA:Jakarta Dilanda Suhu Panas Ekstrem, Warga Diminta Minum 10 Gelas Sehari untuk Cegah Dehidrasi
BACA JUGA:Lebih Presisi Cek Kaki-kaki Mobil dengan Kyoto Shaking Machine, Berikut Lokasi di Seluruh Indonesia
Faisal menilai pemerintah perlu mencari skema yang mampu merangkul seluruh pelaku transportasi, termasuk pengusaha dan pengemudi angkot, agar tetap bisa beroperasi dalam sistem transportasi yang lebih modern.
Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah melalui peremajaan armada atau kerja sama dengan pihak swasta agar angkutan yang sudah ada tetap menjadi bagian dari sistem transportasi kota.
“Angkutan yang sudah ada tetap harus dirangkul. Jangan sampai modernisasi justru mematikan mata pencaharian para pengemudi angkot,” kata Faisal.
- 1
- 2
- »





