Iran, VIVA –Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menolak tawaran untuk meredakan ketegangan atau melakukan gencatan senjata dengan Amerika Serikat, yang disampaikan ke Tehran melalui dua negara mediator, demikian dilaporkan Reuters pada Selasa 17 Maret 2026.
Pejabat itu mengklaim bahwa dalam pertemuan pertamanya tentang kebijakan luar negeri, Mojtaba Khamenei mengambil sikap yang sangat tegas dan serius untuk membalas dendam terhadap Amerika Serikat dan Israel. Namun ia tidak menjelaskan apakah Mojtaba saat itu hadir langsung atau tidak dalam pertemuan tersebut.
Seperti pernah diungkapkan dalam pernyataan perdananya setelah resmi dilantik pada 8 Maret lalu, Mojtaba berjanji akan membalas dendam bagi para korban yang tewas dalam perang dan mengatakan bahwa Iran akan menuntut ganti rugi dari musuhnya. Ia menegaskan, jika musuh menolak, Iran akan mengambil aset mereka atau menghancurkannya hingga setara sebagai bentuk kompensasi
“Sejauh ini, sebagian kecil dari balas dendam ini sudah diwujudkan, tetapi sampai tercapai sepenuhnya, hal ini akan tetap menjadi prioritas kami,” katanya.
Putra kedua Ali Khamenei ini menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur, akan melawan dengan kekuatan penuh, dan akan membalas bukan hanya atas nama almarhum Ayatollah Ali Khamenei, tetapi juga setiap warga yang tewas dalam perang.
“Kami tidak akan melupakan balas dendam untuk darah para syuhada,” ujarnya.
Keberadaan Mojtaba Khamenei
Hingga saat ini, Mojtaba Khamenei masih belum tampil di publik. Namun dirinya dikabarkan telah dipindahkan ke Rusia untuk menjalani perawatan medis setelah terluka parah dalam serangan udara AS-Israel yang menewaskan ayahnya pada 28 Februari.
Ulama berusia 56 tahun ini dibawa ke Moskow setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, secara pribadi menawarkan perawatan medis kepada Mojtaba saat panggilan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menurut laporan surat kabar Kuwait, Al-Jarida.
Menurut laporan tersebut, Mojtaba diterbangkan ke Moskow menggunakan pesawat militer Rusia pada Kamis, usai panggilan yang terjadi antara Putin dengan Pezeshkian.
Sementara itu, Rusia menolak untuk mengonfirmasi maupun membantah laporan tersebut. Juru bicara presiden Rusia, Dmitry Peskov, kepada kantor berita Tass mengatakan, “Kami tidak pernah memberikan komentar terkait laporan seperti ini.”





