Perusahaan energi asal Italia, Eni, resmi menetapkan keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) untuk pengembangan proyek gas Gendalo–Gandang (South Hub) serta Geng North–Gehem (North Hub) di lepas pantai Kalimantan Timur (Kaltim).
Keputusan investasi ini diambil hanya 18 bulan setelah persetujuan Plan of Development (POD) pada 2024, menandai percepatan pengembangan proyek gas laut dalam Indonesia (Indonesia Deepwater Development/IDD).
Keputusan FID proyek gas raksasa ini diumumkan Managing Director Eni Indonesia kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Selasa (17/3).
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyambut baik keputusan investasi tersebut. Menurutnya, FID proyek ini menjadi sinyal kuat kepercayaan investor global terhadap iklim investasi hulu migas di Indonesia. Proyek ini juga diperkirakan akan menyerap hingga ribuan tenaga kerja.
”Dengan investasi senilai USD +15 miliar, secara paralel Eni sedang menjalankan proses tender pengadaan barang dan jasa, serta telah membeli barang yang merupakan LLI (Long Lead Item)," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (18/3).
Proyek ini memanfaatkan teknologi produksi laut dalam serta infrastruktur yang telah ada, termasuk Jangkrik FPU dan reaktivasi Train F fasilitas pencairan gas Bontang LNG Plant, sehingga mampu meningkatkan efisiensi biaya sekaligus mempercepat waktu komersialisasi gas.
Pengembangan Gendalo dan Gandang akan dilakukan pada kedalaman laut 1.000–1.800 meter dengan pengeboran 7 sumur produksi yang dihubungkan ke fasilitas Jangkrik.
Sementara itu, proyek North Hub mencakup pengeboran 16 sumur produksi di kedalaman 1.700–2.000 meter, yang akan terhubung ke FPSO baru dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.
Secara keseluruhan, dua proyek ini memiliki potensi sumber daya sekitar 10 triliun kaki kubik gas (TCF) serta 550 juta barel kondensat. Produksi diproyeksikan pada tahun 2028 dan mencapai puncaknya pada 2029 dengan kapasitas sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari.
Rencananya, gas yang diproduksi akan dialirkan ke darat melalui pipa untuk memasok jaringan pipa domestik serta mendukung produksi LNG di fasilitas Bontang untuk kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Sementara kondensat akan diproses dan disimpan di fasilitas FPSO lepas pantai sebelum dikirim menggunakan kapal tanker.
Selain itu, proyek ini juga akan menjadi bagian dari aset yang akan digabungkan dalam kerja sama bisnis antara Eni dan perusahaan energi Malaysia Petronas, untuk membentuk perusahaan baru (NewCo) yang ditargetkan memiliki produksi lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029.
Eni telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan menjadi salah satu produsen gas penting di kawasan Cekungan Kutai di Selat Makassar, wilayah yang kini berkembang sebagai pusat produksi gas strategis Indonesia.





