Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengeklaim stok daging sapi nasional mencapai 3 kali lipat dari kebutuhan masyarakat, meskipun permintaan masyarakat terhadap stok daging sapi cenderung mengalami peningkatan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menuturkan tidak hanya untuk kebutuhan hingga Idulfitri, stok secara nasional mencukupi untuk kebutuhan konsumsi sampai sesudah Hari Raya Lebaran.
"Secara nasional stok kita sangat sangat sangat aman. Tiga kali sangat aman," kata Ketut dalam keterangannya, Rabu (18/3).
Bapanas memproyeksikan ketersediaan daging ruminansia secara nasional sampai Maret ini dapat mencapai 226 ribu ton. Sementara kebutuhan konsumsi daging sapi/kerbau secara nasional pada Maret diperkirakan berkisar di 65,8 ribu ton.
Optimisme tersebut mengacu pada Proyeksi Neraca Pangan Daging Sapi/Kerbau per Maret yang menunjukkan angka total ketersediaan daging ruminansia untuk Maret ini dapat mencapai 226 ribu ton.
Pasokan tersebut berasal dari produksi sapi/kerbau lokal 143,8 ekor atau setara dengan 28,2 ribu ton. Sisanya merupakan hasil pemotongan sapi/kerbau bakalan dan realisasi impor yang total keduanya dapat mencapai 29,2 ribu ton serta stok awal Maret yang 168,6 ribu ton.
"Jadi stok daging relatif sangat cukup, karena kita kan importasinya 700 ribu live cattle (sapi hidup). Dominan dari Australia. Dari Brasil belum banyak yang datang. Kemudian stok daging lokal juga banyak, dari NTB, dari NTT. Kemudian ada penggemukan juga," terang Ketut.
Kemudian Ketut juga mengeklaim tren harga daging sapi mulai menunjukkan penurunan. Hal ini berdasarkan hasil pantauan pemerintah, dia memastikan pemerintah menjaga kewajaran harga mulai dari Rumah Potong Hewan (RPH) sampai tingkat pengecer.
"Stok kita aman. Kemudian kita pantau harga daging secara nasional, kecenderungannya flat dan turun. Jadi sebenarnya setelah memastikan stoknya sangat cukup, harga daging sap juga akan terus dijaga," ujarnya.
Ketut membeberkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai jumlah daerah yang mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging sapi per minggu kedua Maret bertambah menjadi 47 dibandingkan akhir Februari sebanyak 19.
Adanya tren depresiasi harga daging sapi tersebut terjadi karena Bapanas telah meminta para importir daging sapi untuk mengeluarkan stoknya selama Ramadan sampai Idulfitri. Langkah ini dilakukan dengan komitmen penindakan tegas akan diimplementasikan tatkala terjadi anomali harga.





