Liputan6.com, Jakarta - Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan pengamatan hilal pada Kamis (19/3/2026). Hasil pengamatan dan perhitungan Bosscha menunjukkan belum memenuhi syarat visibilitas (imkan rukyat) berdasarkan standar hilal MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Merujuk standar hilal MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang berlaku sejak 2022 untuk penentuan awal bulan Hijriah adalah ketinggian hilal minimal 3° dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4°. Kriteria ini ditetapkan untuk memastikan hilal memungkinkan untuk dirukyat (imkanur rukyat).
Advertisement
"Elongasi toposentrik (jarak sudut Bulan terhadap Matahari dari sudut pandang pengamat di permukaan Bumi) berada pada kisaran sekitar 4,0° hingga 5,5°," tulis keterangan Bosscha dikutip Liputan6.com, Rabu (17/3/2026).
"Ketinggian Bulan saat Matahari terbenam juga relatif rendah. Peta ketinggian Bulan menunjukkan bahwa ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara 0° hingga 3° di atas ufuk di wilayah Indonesia bagian barat," sambung Bosscha.
Bosscha menyatakan kondisi ini menandakan bahwa Bulan berada dekat dengan Matahari di langit barat dan berada pada ketinggian yang rendah di atas ufuk.
"Secara astronomis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilal berada pada batas yang menantang untuk diamati, sehingga keberhasilan pengamatan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, transparansi langit, serta pengalaman dan metode pengamatan yang digunakan," papar Bosscha
Untuk mendokumentasikan kondisi visibilitas hilal tersebut, tim Observatorium Bosscha akan melaksanakan pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan di Observatorium Bosscha, Lembang.




