Bisnis.com, JAKARTA - Mudik Lebaran kerap identik dengan lonjakan pengeluaran yang sulit dihindari. Tanpa perencanaan yang matang, biaya transportasi, konsumsi, hingga kebutuhan tambahan selama perjalanan bisa membuat anggaran membengkak dan mengganggu kondisi keuangan setelahnya.
Namun, Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini Sutikno, menyebut kondisi ini umumnya terjadi karena banyak orang baru menyadari besarnya pengeluaran saat perjalanan sudah berlangsung.
Belum lagi, menurutnya, kebiasaan belanja impulsif saat mudik serta keinginan membawa oleh-oleh dalam jumlah berlebihan membuat pengeluaran semakin sulit dikendalikan. Meski demikian, dia menekankan bahwa ada sejumlah langkah sederhana yang bisa dilakukan agar budget mudik tetap terkendali.
Salah satu langkah awal yang penting adalah mengidentifikasi seluruh pos pengeluaran. Hal ini mencakup biaya perjalanan pulang-pergi, transportasi selama berada di kampung halaman, akomodasi atau penginapan, kebutuhan konsumsi, aktivitas rekreasi, hingga pengeluaran khas Lebaran seperti salam tempel.
"Setelah itu, bandingkan total kebutuhan dengan anggaran yang tersedia, misalnya dari THR. Jika melebihi, perlu dilakukan penghematan di beberapa pos. Namun, pengendalian pengeluaran sebaiknya dilakukan sejak awal sebagai mindset, bukan hanya saat over budget," katanya, Senin, (16/3/2026).
Sejumlah strategi yang bisa diterapkan di antaranya memilih moda transportasi yang sesuai dengan kemampuan finansial, berbagi biaya perjalanan bersama keluarga, merencanakan destinasi rekreasi sejak awal, serta menyusun rencana makan agar tidak tergoda pengeluaran impulsif. Selain itu, menyiapkan metode pembayaran seperti tunai, QRIS, maupun kartu secara seimbang juga penting dilakukan agar arus pengeluaran tetap terkontrol.
Baca Juga
- Langgar Ketentuan THR, 1.121 Perusahaan Diadukan ke Kemnaker
- Cara Hitung Pajak THR, Bagi Pekerja Swasta yang Kena Potong
- Dedi Mulyadi Larang Aparat Di Jabar Minta THR ke Swasta
Terkait sumber dana, Mike menyarankan agar biaya mudik sebaiknya diambil dari Tunjangan Hari Raya (THR), bukan dari pendapatan bulanan. Hal ini karena THR memang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan selama periode Lebaran.
Ada beberapa pendekatan yang bisa diterapkan dalam mengelola dana mudik. Pertama, seluruh THR dapat dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran, termasuk biaya mudik, sehingga tidak mengganggu pendapatan bulanan yang tetap difokuskan untuk kebutuhan rutin.
Kedua, penggunaan THR bisa dibatasi, misalnya hanya 75 persen untuk mudik dan 25 persen disisihkan sebagai tabungan. Dengan cara ini, seluruh pengeluaran harus disesuaikan agar tetap berada dalam batas anggaran tersebut.
Pendekatan ketiga adalah menyesuaikan anggaran dengan kebutuhan riil di lapangan. Jika biaya mudik melebihi jumlah THR, kekurangannya memang bisa ditutup dari pendapatan bulanan, tetapi perlu dilakukan dengan cermat agar tidak mengganggu keuangan sehari-hari. Bila selisihnya cukup besar, sebaiknya dipersiapkan sejak jauh hari dengan menabung secara bertahap, misalnya menyisihkan sebagian gaji dalam beberapa bulan sebelum Lebaran.
"Lalu, karena mudik adalah perjalanan panjang dan punya risiko, penting juga untuk memiliki dana darurat tersendiri. Misalnya, dengan mengalokasikan sekitar 10% dari THR. Dana ini disimpan terpisah dan hanya digunakan jika benar-benar diperlukan," imbuhnya.
Namun, karena kebutuhan darurat sulit diprediksi, perlindungan finansial bisa diperkuat dengan memanfaatkan asuransi perjalanan atau asuransi kerugian. Kendati demikian, katanya, sebelum mengambilnya, penting untuk memahami terlebih dahulu cakupan perlindungannya, apakah meliputi biaya kesehatan akibat kecelakaan, kerusakan barang, maupun berbagai risiko lainnya selama perjalanan.
Selain itu, jika sudah memiliki dana darurat dari penghasilan bulanan, dana tersebut juga dapat dimanfaatkan saat kondisi mendesak. Namun, jika digunakan, dana darurat perlu segera diisi kembali pada bulan berikutnya. Idealnya, kedua strategi ini dikombinasikan agar perlindungan terhadap berbagai risiko selama mudik menjadi lebih optimal.





