Ramadhan Ala Elite Politik

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Sebagian partai politik memanfaatkan masa Ramadhan untuk mendekati masyarakat. Safari berute jauh rela ditempuh demi berjumpa warga. Dalam perbincangan langsung, sederet aspirasi diserap sambil berusaha menarik simpati. Ini menjadi bagian dari persiapan menuju kontestasi elektoral mendatang. 

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasdem Saan Mustopa mengisi kegiatan Ramadhan dengan mengelilingi Pulau Jawa bersama kader partainya. Tidak tanggung-tanggung 15 hari lamanya ia dan rombongan menempuh perjalanan jalur darat menggunakan bus dalam misi bertajuk “Safari Ramadhan”. Berangkat dari Kantor DPP Nasdem, di Jakarta, pada Sabtu (21/2/2026), perjalanan mereka berakhir di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2026). 

Saan dan rombongan mengawali perjalanan mereka dengan menyusuri daerah-daerah di sisi utara Pulau Jawa. Wilayah sisi selatan Pulau Jawa baru mereka lintasi saat menempuh perjalanan pulang. Dalam perjalanan itu, hampir semua provinsi mereka singgahi; yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Saban singgah, Saan sebisa mungkin mengunjungi pondok pesantren. Beberapa titik yang sempat didatangi, antara lain, Pondok Pesantren Bustanun Nasyi’in di Cirebon, Jawa Barat; Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang di Jepara, Jawa Tengah; hingga Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur.

Konsolidasi daerah-daerah secara langsung itu bagian dari penguatan struktur sambil melihat kesiapan kami menuju 2029 nanti.

“Kami ingin memperteguh dan memperkuat tali silaturahmi dengan semua kalangan, terutama kyai dan para pemimpin pondok pesantren. Ini bagian dari membangun komunikasi antara partai politik dan tokoh-tokoh masyarakat di daerah,” tutur Saan soal tujuan perjalanannya, saat dihubungi, Kamis (26/2/2026).

Saan mengungkapkan, pondok pesantren dijadikan sasaran persinggahan sebagai bentuk penghormatan partainya atas lembaga pendidikan berbasis keagamaan itu. Terlebih lagi, warga pesantren telah banyak berkontribusi bagi negeri ini sejak era prakemerdekaan. Bahkan, sumbangsih mereka terus berlanjut sampai sekarang.

Baca JugaRamadhan, Tokoh Politik Intens Bangun Komunikasi dengan Ulama dan Santri

Lantas, Saan memanfaatkan ajang silaturahmi itu juga untuk menyerap aspirasi dari warga pesantren, sebagaimana tugasnya selaku legislator. Lebih dari itu, ia juga ingin tahu apa saja yang diharapkan warga pesantren dari kader partai politik sepertinya.

“Pondok pesantren ini, kan, juga paling banyak ada di Jawa. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, sampai Jawa Timur. Baik yang ada di utara maupun selatan. Ini yang penting. Maka, kami juga memilih safari ini difokuskan di Jawa karena kita ingin mendengar mereka secara langsung,” kata Saan. 

Ihwal pilihan daerah tujuan safari itu, Saan tak menampik soal muatan kepentingan elektoral yang melatarinya. Baginya, ajang safari itu termasuk upaya menguatkan pengaruh partainya di tengah masyarakat dari wilayah Jawa.

Selama ini, sebut dia, partai tempatnya bernaung itu memang lebih dikenal dan kokoh secara keterpilihan di wilayah-wilayah luar Pulau Jawa. Ia berharap kedatangannya menjumpai langsung para warga akan kian mendekatkan partainya dan masyarakat.

“Kami ingin memperkuat Jawa. Walaupun dari pemilu ke pemilu kita mengalami pergerakan yang positif, kita tetap harus mengakselerasi penguatannya,” kata Saan.

Baca JugaGerak Elite Politik Menjalin Politik Silaturahmi

Untuk itu, Saan juga selalu mengadakan konsolidasi bersama kader-kader partainya di tingkat daerah setiap kali singgah. Dalam berbagai rapat konsolidasi itu, ia selalu mengingatkan agar segenap kader menjaga soliditas menyambut kontestasi elektoral yang baru akan dimulai tiga tahun mendatang.

“Konsolidasi daerah-daerah secara langsung itu bagian dari penguatan struktur sambil melihat kesiapan kami menuju 2029 nanti. Ini, kan, sudah berjalan dua tahun sejak pemilu terakhir. Tinggal tersisa kurang dari tiga tahun, tentu persiapan menjadi hal yang sangat penting bagi partai politik,” kata Saan.

Momen membangun kedekatan

Selain itu, sebut Saan, upaya membangun kedekatan antara partainya dan masyarakat juga ditempuh dengan mengadakan acara-acara lain yang misinya meringankan beban masyarakat. Acara itu bentuknya berupa pembagian sembako, pasar murah bahan pokok, hingga pemberian santunan ke anak-anak yatim piatu. 

“Ramadhan ini juga jadi ajang untuk saling berbagi. Di tengah situasi masyarakat yang serba sulit, kebutuhan semakin tinggi, ini rasa-rasanya menjadi momen pas untuk berbagi,” kata Saan.

Partai politik lain yang juga sama-sama mengadakan Safari Ramadhan adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Berbeda dengan NasDem, kader-kader “Partai Gajah” itu melakukan safari secara sporadis di seluruh wilayah di Indonesia. Tidak hanya oleh kadernya dari tingkat pusat, para kader tingkat daerah juga melangsungkan safari secara bersamaan.

Baca JugaRamai Kader PDI-P dan PSI Saling Menyeberang, Ada Apa?

Dari tingkat pusat, Safari Ramadhan dipimpin langsung Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep. Ajang safari itu digunakannnya untuk mengunjungi sejumlah pondok pesantren di berbagai wilayah. Berawal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, kunjungan Kaesang lalu menyebar ke daerah-daerah lainnya seperti Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga DIY.

“Safari Ramadhan ini sederhana saja. Kami yang mengurus PSI juga umat beragama. Kami punya hak menjalankan ibadah dan bersilaturahmi di bulan suci,” kata Juru Bicara PSI Faldo Maldini, saat dihubungi, Selasa (10/3/2026). 

Selama melangsungkan safari, jelas Faldo, kegiatan yang dijalani para kader partainya itu antara lain buka puasa bersama, tarawih, dan pertemuan bersama warga. Momen pertemuan warga itu turut digunakan untuk mendengarkan langsung masukan-masukan warga tentang berbagai hal.

“Ramadhan adalah momen terbaik untuk mendengar langsung suara masyarakat. Silaturahmi seperti ini akan terus kami lanjutkan di berbagai daerah,” kata Faldo.

Bukan hanya Safari Ramadhan, PSI juga membuka program mudik gratis untuk Lebaran 2026. Sebanyak 100 unit bus eksekutif yang dilengkapi pendingin ruangan disiapkan untuk program itu. Total kuota yang akan diberangkatkan mencapai 5.000 orang. Adapun kota tujuan mudiknya tersebar pada 16 kota di Pulau Jawa. Tak hanya diberangkatkan, para peserta mudik gratis nantinya juga bakal diberi bingkisan sebagai oleh-oleh bagi keluarga mereka di kampung halaman.

Baca JugaMudik Lebaran sebagai Retret Sosio-spiritual

Faldo menjelaskan, program mudik gratis merupakan bentuk tanggung jawab sosial PSI sebagai partai politik. PSI tidak ingin menjadi partai yang hadir saat mendekati kampanye saja. Jajaran partai yang dipimpin putra bungsu Presiden ke-7 Joko Widodo itu meyakini, politik bisa digunakan sebagai alat solidaritas sosial yang manfaatnya terasa bagi masyarakat.

“PSI percaya partai politik tidak cukup hanya berbicara soal kekuasaan, tetapi harus hadir membantu ketika masyarakat membutuhkan. Ketika bantuan terasa nyata, hubungan antara partai dan rakyat tumbuh dari kepercayaan, bukan sekadar pencitraan,” kata Faldo. 

Sebagai partai nonparlemen, sebut Faldo, PSI terus berjuang agar berhasil lolos menuju Senayan. Tetapi, ia enggan memosisikan program itu sebatas pelancar jalan guna memperoleh dukungan elektoral. Jauh lebih penting baginya untuk menghadirkan segenap kader partai di tengah-tangah masyarakat demi memberikan manfaat besar bagi rakyat.

Ruang dialog

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono termasuk salah satu elite yang juga mengisi sela-sela Ramadhannya dengan bersafari ke Banten, pada 21 Februari 2026. Bahkan, Ketua Umum Demokrat itu menyetir sendiri mobilnya untuk mendatangi daerah tersebut. Dalam kesempatan itu, ia didampingi sejumlah kader partainya, yaitu Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara dan tiga staf khusus Agus, yakni Herzaky Mahendra Putra, Agust Jovan Latuconsina, serta Arif Rachman.

Baca JugaRamadhan Jadi Momentum Parpol Bangun Kedekatan dengan Konstituen

Salah satu titik yang disambanginya Agus adalah Ma’had Islam Rafiatul Akhyar (MIRA) Institute, di Pandeglang, Banten. Di sana, ia bersilaturahmi dengan pendiri lembaga itu, yakni Ustadz Adi Hidayat, dan jajaran pengurus. Sosok ulama lain yang juga dijumpai Agus dalam lawatannya kali itu ialah Ketua Umum Pengurus Besar Mathlaul Anwar KH Embay Mulya Syarif. Baginya, ajang itu membuka ruang dialog antara pemerintah dan ulama guna merespons tantangan pembangunan bangsa sekaligus momen refleksi.

“Ini adalah momen yang spesial. Di bulan suci Ramadhan, kita tidak hanya menyambung silaturahmi, tetapi juga melakukan refleksi, kontemplasi, dan membasuh hati,” kata Agus, sewaktu memberikan sambutan di Mira Institute.

Tidak hanya menemui ulama, Agus juga meluangkan waktu untuk menjumpai komunitas anak muda yang bergerak pada ranah ekonomi kreatif di daerah itu. Bahkan, ia juga mampir menyapa warga di sentra jajanan takjil untuk berbagi makanan untuk berbuka puasa.

Baca JugaRamadhan, Trotoar, dan Generasi yang Merayakan Senja

Dihubungi terpisah, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah A Bakir Ihsan menyampaikan, fenomena safari hingga berbagi semasa Ramadhan mencerminkan sifat elite politik yang selalu mencari momentum. Lewat ajang-ajang itu, elite dan partai politik berusaha meraup sumber insentif bagi eksistensi mereka. Lebih-lebih, secara teologis, Ramadhan dimaknai sebagai bulan berbagi, bersilaturahmi, dan menebarkan kebaikan.

“Partai politik memahami makna itu dan menggunakannya dengan beragam kegiatannya, seperti safari Ramadan, berbagi takjil, bantuan fakir miskin, dan mudik gratis sebagai bagian dari sosialisasi politik,” kata Bakir. 

Bakir tak yakin kehadiran partai politik semasa Ramadhan akan langsung memberikan efek elektoral signifikan. Pasalnya, kontestasi baru akan digelar tiga tahun lagi. Walaupun begitu, kegiatan-kegiatan itu bisa menjadi “cicilan politik” menuju pemilu. Setidaknya, sebut dia, publik tahu jika partai politik itu benar-benar ada. 

Lain ceritanya, sebut Bakir, jika usaha mencari simpati publik itu dilakukan secara terus menerus. Sebagai momen tahunan, efek yang diberikan Ramadhan hanya sesaat. Untuk itu, elite dan partai politik tidak bisa melakukan segalanya secara mendadak. Mesti ada proses yang dilalui supaya publik mengakui keberadaan mereka. 

“Sebenarnya ini gejala partai politik yang menjalankan programnya pada momen tertentu, sehingga tingkat kedekatan publik terhadap partai bersifat temporal,” kata Bakir.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sejumlah Negara Eropa Tolak Ajakan AS Bergabung Operasi Militer di Selat Hormuz
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kemlu: Pembahasan soal BOP Ditangguhkan, Pengiriman Pasukan Perdamaian Ditunda
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Breaking News! Rudal Iran Ditembak Israel, Serpihan Jatuh di Al Aqsa
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jelang One Way, Jalur Arah Jakarta di Tol Cipali Disterilisasi
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
GoSend Kolaborasi Hadirkan Sarung Edisi Ramadhan
• 3 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.